Ekonomi . 19/06/2026, 06:32 WIB
fin.co.id - Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) menjadi 5,75 persen memunculkan pertanyaan mengenai dampaknya terhadap akses pembiayaan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Meski demikian, pemerintah dan sektor perbankan memastikan penyaluran kredit kepada UMKM tetap menjadi prioritas.
Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menegaskan kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin tidak boleh mengganggu aliran kredit yang selama ini menjadi penopang aktivitas usaha masyarakat.
Usai menghadiri pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan jajaran pimpinan bank-bank Himbara di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Kamis malam, Rosan menyampaikan bahwa perbankan perlu menjaga produktivitas dan efisiensi agar penyaluran pinjaman tetap stabil meskipun biaya dana meningkat.
"Walaupun ada kenaikan suku bunga, tetapi lending-nya ke masyarakat, kepada dunia usaha, terutama UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah), itu tetap bisa terjaga di level yang baik, di level yang sama," kata Rosan.
Menurut dia, kondisi industri perbankan saat ini masih cukup kuat untuk menopang pembiayaan sektor produktif. Dalam kurun waktu 2025 hingga 2026, pertumbuhan kredit yang disalurkan kepada masyarakat, termasuk UMKM, tercatat meningkat sekitar 15 persen.
Rosan juga menyoroti kondisi likuiditas perbankan yang masih terjaga. Dana pihak ketiga terus tumbuh dua digit, sementara rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) di lingkungan Himbara masih berada pada level rendah.
"Likuiditas juga, dana pihak ketiga terjaga juga naik double-digit, dan yang paling penting NPL-nya, non-performing loan bank kita, Mandiri itu hanya 0,9 persen. Jadi, average NPL atau non-performing loan bank Himbara itu antara 0,9 persen sampai 1,8 persen pada saat ini. Nah, justru hal-hal itu yang mesti diperbaiki, yang mesti ditingkatkan efisiensinya," ujar Rosan.
Dengan kondisi tersebut, ia optimistis perbankan masih memiliki ruang untuk mempertahankan penyaluran kredit kepada pelaku UMKM meskipun suku bunga acuan bergerak naik.
Sementara itu, Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, menyatakan pihaknya mendukung langkah yang diambil Bank Indonesia. Menurutnya, keputusan kenaikan suku bunga merupakan bagian dari kebijakan makroekonomi yang telah melalui berbagai pertimbangan.
"Kami dari sisi Danantara ikut saja apa yang sudah dilakukan policymaker baik dari sisi fiskal dan monetary, tentunya (Danantara) pasti support, mereka (BI) sudah memperhitungkan. Buat kami Danantara sebagai pelaku akan lakukan yang terbaik," ujar Pandu.
Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juni 2026 yang memutuskan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen. Selain itu, suku bunga Deposit Facility naik menjadi 4,75 persen dan Lending Facility menjadi 6,50 persen.
Menurut Perry, kebijakan tersebut ditempuh untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus menjaga inflasi agar tetap berada dalam sasaran pemerintah.
"Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk makin memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tetap tingginya ketidakpastian global serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen yang ditetapkan Pemerintah," kata Perry Warjiyo.
Meski kenaikan BI Rate berpotensi meningkatkan biaya pinjaman di sektor perbankan, pemerintah berharap dukungan kredit bagi UMKM tetap terjaga sehingga aktivitas usaha dan pertumbuhan ekonomi nasional tidak terganggu. *
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id