Ragam . 18/06/2026, 12:30 WIB
fin.co.id - Institut Teknologi PLN (ITPLN) bersama PT PLN Mandau Cipta Tenaga Nusantara (MCTN) menggelar Media Gathering dan Energy Communication Forum 2026 bertajuk "Dari Data Teknik Menjadi Narasi Publik". Dalam acara ini, kampus transisi energi itu ingin mengupas bahasa teknis dalam dunia kelistrikan menjadi narasi publik agar mampu membangun kepercayaan masyarakat.
Executive Vice President Corporate Communication dan CSR PT PLN (Persero), Gregorius Adi Trianto yang menjadi pembicara dalam Media Gathering ini mengatakan PLN selama ini dikenal sebagai perusahaan yang sangat teknis. Namun, tantangan saat ini bukan hanya memastikan listrik tetap menyala, melainkan juga menyampaikan proses bisnis yang kompleks kepada masyarakat secara sederhana dan mudah dipahami.
"PLN adalah perusahaan teknis. Mulai dari pembangkitan, transmisi, distribusi hingga pelayanan pelanggan, semuanya memiliki kompleksitas masing-masing. Tantangannya adalah bagaimana informasi teknis tersebut bisa diterjemahkan menjadi bahasa komunikasi yang mudah dipahami masyarakat," ujar Gregorius di kampus ITPLN, Kamis, 18 Juni 2026.
Menurutnya, penguatan komunikasi berfungsi sebagai jembatan antara perusahaan dan publik. Melalui media massa, media sosial, aplikasi digital, hingga berbagai kanal komunikasi lainnya, ungkapnya, masyarakat harus memperoleh akses informasi yang cepat, akurat, dan mudah dipahami.
Gregorius menegaskan, jika institusi gagal membangun jembatan komunikasi tersebut, publik akan mencari informasi sendiri melalui berbagai sumber yang belum tentu benar.
"Kalau kita tidak membuka jembatan informasi itu, masyarakat akan mencari sendiri, mengulik sendiri, bahkan bisa membentuk persepsi sendiri berdasarkan informasi yang belum tentu lengkap," katanya.
Sementara itu, Direktur Pusat Transisi Energi dan Keberlanjutan ITPLN, Dr. Zainal Arifin, menilai kemampuan menyederhanakan istilah teknis menjadi bahasa yang dekat dengan keseharian masyarakat menjadi kunci keberhasilan komunikasi. Menurutnya, banyak istilah di sektor energi yang sulit dipahami publik apabila disampaikan secara akademis.
"Tantangannya adalah mensimplifikasi. Misalnya istilah energy storage mungkin tidak semua orang memahami, tetapi ketika disebut sebagai 'power bank rumah', masyarakat langsung mengerti," kata Zainal.
Ia menambahkan, kalangan akademisi memiliki tanggung jawab untuk memastikan hasil penelitian dan inovasi tidak berhenti di ruang laboratorium atau jurnal ilmiah semata.
"Kalau kita mengetahui sesuatu yang bermanfaat, maka tugas kita adalah menyampaikannya kepada masyarakat. Riset bukan hanya menghasilkan temuan baru, tetapi juga memastikan manfaatnya dipahami publik," tuturnya.
Dalam kesempatan yang sama, Managing Editor Video dan Digital Distribution Kompas.com, Laksono Hari Wiwoho, menekankan bahwa komunikasi publik tidak selalu harus dipenuhi data teknis yang rumit.
Menurut dia, masyarakat lebih membutuhkan pemahaman mengenai dampak dan manfaat suatu kebijakan atau program dibandingkan angka-angka yang sulit dipahami.
"Data itu penting, tetapi yang lebih penting adalah masyarakat memahami ujung dari informasi tersebut. Untuk apa kebijakan itu dilakukan dan apa manfaatnya bagi mereka," kata Laksono.
Ia juga menyoroti pentingnya transparansi dan empati dalam komunikasi krisis. Menurutnya, publik saat ini tidak hanya ingin mengetahui fakta, tetapi juga ingin melihat tanggung jawab dan kepedulian dari institusi yang menghadapi persoalan.
"Ketika menghadapi krisis, yang paling penting adalah tampil di depan, bertanggung jawab, dan menyampaikan fakta secara jujur. Empati sering kali lebih mudah diterima publik dibanding penjelasan teknis yang panjang," imbuhnya.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id