Korban Sipil Terus Berjatuhan, Trump Kritik Keras Taktik Militer Israel di Lebanon

fin.co.id - 17/06/2026, 20:18 WIB

Korban Sipil Terus Berjatuhan, Trump Kritik Keras Taktik Militer Israel di Lebanon

Donald Trump kritik keras taktik militer Israel di Lebanon karena bom gedung apartemen warga sipil.

fin.co.id - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan teguran publik yang jarang terjadi terhadap sekutu dekatnya. Pada Selasa, 16 Juni 2026, Trump mengkritik tajam taktik militer Israel di Lebanon yang menargetkan kelompok militan Hizbullah. Menurutnya, tentara tidak perlu menghancurkan seluruh bangunan tempat tinggal demi mengejar target operasi.

Keluhan ini muncul di tengah ketegangan yang meningkat antara dirinya dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Walaupun keduanya merupakan sekutu politik utama, Trump akhir-akhir ini kehilangan kesabaran akibat serangan udara ke Beirut. Ia mengkhawatirkan aksi tersebut dapat merusak upaya kesepakatan damai yang sedang ia bangun dengan pihak Iran.

Trump Sebut Serangan Udara Merobohkan Gedung Apartemen Terlalu Berlebihan

Saat berbicara pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 di Prancis, Trump menegaskan bahwa konflik antara Israel dan milisi Lebanon binaan Iran tersebut sudah berlangsung "terlalu lama". Ia menyoroti banyaknya korban dari kalangan masyarakat umum yang tidak bersalah akibat strategi pengeboman massal.

"Terlalu banyak orang telah terbunuh. Anda tidak perlu merobohkan gedung apartemen setiap kali Anda mencari seseorang, karena ada banyak orang di gedung-gedung apartemen itu, dan they tidak semuanya Hizbullah," kata Trump saat memberikan keterangan resmi.

Hubungan AS-Israel Memanas Akibat Isu Iran dan Beirut

Meskipun Trump mengaku memiliki "hubungan yang hebat" dengan Netanyahu, ia mendesak agar sang Perdana Menteri bertindak "lebih bertanggung jawab" saat melancarkan operasi di Lebanon. Ia bahkan mengingatkan kontribusi besar negaranya bagi keberadaan negara sekutunya itu di Timur Tengah.

"Tanpa kami, tanpa Amerika Serikat, tidak akan ada Israel. Tanpa saya, tidak akan ada Israel, karena tidak ada presiden lain yang bersedia melakukan apa yang saya lakukan."

Perselisihan kedua pemimpin ini berakar dari penolakan Israel untuk membatasi gempuran terhadap Hizbullah. Padahal, penghentian pertempuran di Lebanon menjadi syarat utama yang Iran ajukan dalam negosiasi damai.

Akibat keras kepala ini, pejabat Israel sempat membisikkan kekecewaan mereka terhadap draf kesepakatan versi Trump, sementara sang presiden meradang karena serangan Beirut memicu balasan langsung dari Iran.

Tidak lama setelah pidato tersebut, akun media sosial resmi Gedung Putih mengunggah potongan video pernyataan kritis tersebut. Walau demikian, pihak istana membantah adanya keretakan dan tetap menyebut Pasukan Pertahanan Israel sebagai mitra yang luar biasa.

"Tidak ada teman yang lebih baik bagi Israel dan pejuang perdamaian selain Presiden Trump... Amerika dan sekutu kita di seluruh dunia sudah lebih aman berkat tindakan berani Amerika Serikat dan Israel untuk mencegah rezim Iran mengembangkan senjata nuklir," ujar seorang pejabat Gedung Putih.

Dampak Kritik Terhadap Kebijakan Pertahanan

Sejauh ini, belum ada tanda-tanda bahwa teguran keras dari sang presiden akan berubah menjadi kebijakan nyata yang dapat memaksa militer Israel mengubah pola serangannya.

Di panggung internasional, negara tersebut memang sudah menghadapi gelombang kecaman luas, terutama atas agresi di Gaza yang telah menewaskan 73.000 orang—yang sebagian besar merupakan warga sipil menurut data Kementerian Kesehatan Gaza.

Esnoe Faqih Wardhana
Esnoe Faqih Wardhana
Penulis

Penulis FIN.CO.ID