fin.co.id – Amerika Serikat (AS) dan Iran akan mengadakan pertemuan tidak langsung di Doha pada pekan ini. Pertemuan digelar menjelang penandatanganan resmi kesepakatan yang bertujuan mengakhiri perang di Timur Tengah. Hal itu diungkapkan seorang diplomat kepada AFP, Senin, 15 Juni 2026.
“Pertemuan persiapan terpisah dengan masing-masing pihak akan berlangsung di Doha minggu ini, sebelum penandatanganan resmi di Swiss dan dimulainya pembicaraan teknis,” kata diplomat tersebut, yang berbicara dengan syarat anonim untuk membahas pengaturan yang sensitif.
Sumber tersebut menambahkan bahwa mediator Qatar telah meninggalkan Teheran setelah “17 jam negosiasi intensif,” yang dimulai pada hari Minggu dan berpuncak pada tercapainya kesepakatan.
AS dan Iran Umumkan Kesepakatan Damai
Nilai komoditas energi global atau harga minyak anjlok secara signifikan setelah AS dan Iran mengumumkan kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik bersenjata mereka.
Tidak hanya menyudahi kontak senjata, kedua belah pihak juga setuju untuk membuka kembali Selat Hormuz yang menjadi urat nadi pelayaran komoditas energi dunia.
Meskipun kesepakatan ini masih berupa kerangka kerja atau pakta pendahuluan, langkah tersebut menandai terobosan paling besar untuk menyudahi konflik berdarah yang pecah sejak Februari lalu akibat serangan gabungan AS-Israel ke Iran.
Selama ini, perang tersebut telah merenggut ribuan nyawa dan mengguncang stabilitas pasar energi global. Terkait kelanjutan program nuklir Teheran sendiri, kedua negara memutuskan untuk menyerahkan nasibnya pada agenda negosiasi lebih lanjut.
“Kesepakatan dengan Republik Islam Iran kini telah selesai,” tulis Presiden AS Donald Trump melalui akun resminya di platform Truth Social pada Minggu, 14 Juni 2026, sekitar pukul 17.30 waktu Washington (2130 GMT).
Informasi ini menyusul pengumuman dari Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, yang bertindak sebagai mediator dalam konflik ini. Sharif mengumumkan keberhasilan tercapainya kesepakatan tersebut pada Senin pagi waktu setempat. Selanjutnya, kedua negara menjadwalkan penandatanganan resmi Memorandum of Understanding (MoU) ini pada hari Jumat mendatang di Swiss.
Penghentian Operasi Militer Secara Permanen, Termasuk di Lebanon
Hingga saat ini, poin-poin kesepakatan secara rinci memang belum terpublikasi sepenuhnya. Namun, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif melalui unggahannya di media sosial X memaparkan bahwa pakta damai tersebut menuntut penghentian operasi militer dengan segera dan permanen di seluruh lini pertempuran, termasuk wilayah Lebanon.
Baca Juga
Selama beberapa pekan terakhir, wilayah Lebanon memang menjadi titik permasalahan yang paling pelik dalam proses negosiasi. Pihak Israel dan Hizbullah sempat mengabaikan desakan dari Donald Trump maupun para pemimpin dunia lainnya untuk menyudahi aksi saling serang.
Namun, melalui pernyataan resmi sekretariat Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, mereka menegaskan bahwa seluruh operasi militer di semua medan perang—termasuk Lebanon—akan berakhir secara permanen mulai Senin malam.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menambahkan bahwa kedua belah pihak akan memanfaatkan periode gencatan senjata selama 60 hari ini untuk menegosiasikan kesepakatan yang lebih luas. Agenda penting yang akan masuk dalam pembahasan tersebut antara lain pemulihan hak ekonomi lewat pencabutan sanksi untuk Iran.