Latar Belakang Konflik dan Beban Politik Domestik
Jika menengok ke belakang, konflik berdarah ini telah menelan korban jiwa yang sangat besar. Ribuan orang tewas, dengan mayoritas korban berada di wilayah Iran dan Lebanon, semenjak pasukan militer AS dan Israel meluncurkan serangan pertama ke Iran pada 28 Februari lalu.
Sebagai bentuk balasan, Iran kemudian menyerang Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi markas atau menampung pangkalan militer AS. Iran juga memblokade Selat Hormuz secara efektif, sebuah tindakan yang sempat melambungkan harga energi global secara drastis dan direspons oleh pasukan AS dengan cara memblokir pelabuhan-pelabuhan Iran.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada reaksi ataupun pernyataan langsung dari pihak Israel terkait pengumuman perdamaian tersebut. Israel sendiri menyatakan bahwa posisi mereka bukanlah bagian dari pihak yang ikut dalam kesepakatan rencana perdamaian AS-Iran ini.
Bagi Trump pribadi dan rekan-rekan separtainya di Republik yang duduk di Kongres, perang melawan Iran ini telah menjadi beban politik domestik yang sangat berat. Berbagai hasil jajak pendapat memperlihatkan tingkat frustrasi yang sangat tinggi dari warga Amerika akibat lonjakan harga bensin yang melambung tinggi, terutama menjelang pemilihan paruh waktu pada November mendatang.
Di sisi lain, Trump juga menghadapi tekanan internal dari anggota partainya sendiri yang tetap bersikeras menuntut agar program nuklir Iran harus dihentikan secara total.