fin.co.id – Rusia menghujani Ukraina dengan ratusan drone dan puluhan rudal pada Selasa, 2 Juni 2026 pagi, menewaskan sedikitnya 18 orang, beberapa hari setelah mengancam serangan skala besar dan memperingatkan warga negara asing untuk meninggalkan Kyiv. Rentetan serangan udara ini langsung memicu kepanikan massal dan merusak berbagai fasilitas sipil di beberapa kota besar.
Pihak berwenang di ibu kota Ukraina telah memperingatkan bahwa Rusia sedang mempersiapkan serangan mematikan terbaru dalam serangkaian serangan besar yang telah meningkatkan perang yang telah berlangsung selama empat tahun dan meredupkan harapan tipis untuk pergolakan politik menuju perdamaian.
Malam Horor di Kyiv dan Kerusakan Infrastruktur
Gelombang serangan udara ini berlangsung masif dan menyasar banyak wilayah sekaligus. Angkatan udara Ukraina mengatakan Rusia telah meluncurkan 73 rudal dan 656 drone, menambahkan bahwa mereka telah menembak jatuh 602 drone dan 40 rudal.
Wartawan AFP di Kyiv mendengar sirene serangan udara meraung di atas kota sebelum serangkaian ledakan keras yang berlangsung sepanjang malam membuat warga dengan tas dan selimut bergegas mencari perlindungan di stasiun metro yang ramai.
Warga sipil yang bertahan di rumah-rumah mereka harus melewati malam yang mencekam di tengah dentuman ledakan. Anastasia, yang gedung tempat tinggalnya rusak dalam serangan itu, mengatakan dia menghabiskan malam yang “berisik” dan “mengerikan” meringkuk di kamar mandinya.
Kesaksian Warga dan Dampak Kerusakan
“Semua jendela hancur total; tidak ada jendela sama sekali. Bukan hanya satu ledakan sepanjang malam. Malam di sini benar-benar mimpi buruk,” katanya kepada AFP.
Menteri Luar Negeri Ukraina Andriy Sybiga mengatakan serangan itu adalah tanda keputusasaan Rusia, bahwa Presiden Vladimir Putin membom warga sipil karena pasukannya kesulitan di medan perang.
“Putin adalah penjahat perang dan pecundang yang tidak memiliki kartu selain teror. Moskow kalah di medan perang. Tidak ada jumlah rudal yang dapat mengubah ini,” kata Sybiga dalam pernyataan di media sosial.
Zelenskyy Desak Pasokan Rudal Patriot dari Amerika Serikat
Menghadapi eskalasi yang kian mematikan ini, Presiden Volodymyr Zelenskyy menggunakan serangan itu untuk kembali meminta dukungan militer AS.
Baca Juga
“Eropa membutuhkan pertahanan anti-balistiknya sendiri agar perang ini akhirnya dapat diakhiri. Dan bantuan dari Amerika Serikat dalam memasok rudal untuk sistem Patriot sangat diperlukan,” tulis Zelenskyy di media sosial.
Moskow telah membombardir Ukraina hampir setiap hari sejak melancarkan invasi pada Februari 2022, sebuah perang yang kini menjadi perang paling berdarah di tanah Eropa sejak Perang Dunia II, dengan ratusan ribu orang tewas dan jutaan orang mengungsi.
Di sisi lain, Kremlin memberikan pernyataan resmi terkait aksi militer terbarunya ini. Rusia mengatakan telah melakukan serangan besar-besaran, termasuk dengan rudal hipersonik, yang menargetkan kompleks industri militer Ukraina. Meski demikian, pihak Rusia membantah bahwa pasukannya menargetkan warga sipil.