Rujak Ambon

fin.co.id - 20/05/2026, 07:17 WIB

Rujak Ambon

Menu makan malam hari itu: papeda dengan kuah ikan kuning, ikan bakar dabu-dabu, sayur bunga pepaya, kangkung, dan jus pala. Inilah sayur bunga pepaya yang terus terbayang rasanya. Saya pikir dalam-dalam: mengapa begitu enaknya. Kesimpulan saya: masaknya pakai kenari!

Kelak, empat hari kemudian, saya ulangi pesan menu yang sama. Kali ini sayur bunga pepayanya satu porsi untuk saya sendiri.

Malam itu saya ke satu proyek di Ambon. Sampai malam. Setelah itu barulah menuju hotel. Mampir tidur. Pagi-pagi harus ke Tulehu lagi. Dari dermaga Tulehulah kapal cepat ke Banda berangkat.

Saya menyesal membeli tiket termahal. Kabin untuk kelas terbaik ini ternyata di bagian atas-depan kapal. Duduk di tempat seperti itu berarti akan menerima goyangan ombak lebih kuat. Bisa pusing diayun gelombang. Kelak, baliknya, kursi itu tidak saya tempati. Kami pilih di bagian bawah paling belakang kapal. Di dek terbuka. Lebih tenang. Bisa menulis banyak artikel tanpa pusing kepala. Juga bisa podcast bersama Sasa untuk Dismorning hari itu.

Tiba di Banda pun kami belum tahu akan bermalam di hotel apa. Pengetahuan tentang Banda tidak banyak. Saya juga tidak mau terpengaruh pendapat orang. Maka mobil yang menawarkan diri untuk kami saya minta keliling kota dulu. Kami mau banding-bandingkan hotel mana yang memenuhi selera.

Pilihan kami jatuh ke hotel di depan Benteng Banda.

Hotel yang relatif baru tapi dibangun dengan arsitektur kolonial dari zaman VoC. Gerbangnya pun berlambang VoC. Tarifnya yang tidak terlalu VoC. (Dahlan Iskan)

Afdal Namakule
Afdal Namakule
Penulis

Jurnalis profesional sejak 2016 dengan spesialisasi isu Politik, News, dan Lifestyle. Menjabat sebagai Redaktur di FIN.CO.ID sejak 2018, ia juga aktif mengulas perkembangan teknologi terkini. Berdedikasi menyajikan informasi akurat dan kredibel bagi pembaca