Internasional . 20/05/2026, 05:42 WIB
fin.co.id - Jepang tengah menghadapi krisis kesehatan musiman yang makin meluas akibat lonjakan alergi serbuk sari. Kondisi ini tidak hanya mengganggu aktivitas harian jutaan warga, tetapi juga menimbulkan beban ekonomi besar setiap musim semi.
Fenomena ini dipicu oleh kebijakan reboisasi besar-besaran setelah Perang Dunia II yang kini efeknya terasa puluhan tahun kemudian. Hutan buatan yang didominasi satu jenis pohon menjadi sumber utama penyebaran serbuk sari dalam jumlah masif ke wilayah perkotaan.
Dalam beberapa tahun terakhir, Jepang mencatat peningkatan signifikan kasus rhinitis alergi atau hay fever. Diperkirakan hampir setengah populasi mengalami gejala ringan hingga berat setiap musim semi. Gejalanya meliputi bersin terus-menerus, hidung tersumbat, mata berair, hingga gangguan tidur yang berdampak pada produktivitas kerja.
Di kota-kota besar seperti Tokyo, Osaka, dan Kobe, warga bahkan mulai terbiasa menggunakan masker jauh sebelum pandemi menjadi kebiasaan global. Namun di Jepang, masker bukan hanya perlindungan dari virus, melainkan sudah menjadi perisai utama dari serbuk sari yang beterbangan di udara.
Media internasional BBC dalam laporannya berjudul “Japan is gripped by mass allergies. A 1950s project is to blame” menggambarkan kondisi ini sebagai krisis nasional yang terus berulang setiap tahun.
Akar masalah ini berawal dari situasi Jepang setelah Perang Dunia II. Saat itu, banyak hutan gundul akibat eksploitasi kayu selama masa perang. Pemerintah kemudian menjalankan program reboisasi besar-besaran untuk mencegah bencana tanah longsor dan banjir.
Namun, dalam upaya mempercepat pemulihan, hanya dua jenis pohon yang banyak ditanam secara luas, yaitu sugi (cedar Jepang) dan hinoki (cypress Jepang). Kedua jenis pohon ini dipilih karena tumbuh cepat dan mudah digunakan sebagai bahan bangunan.
Masalahnya, kedua spesies ini menghasilkan serbuk sari dalam jumlah besar. Ketika hutan tersebut matang, serbuk sari yang dilepaskan menyebar ke wilayah pemukiman, terutama saat musim semi ketika angin membawa partikel tersebut ke kota-kota besar.
Dalam laporan BBC, disebutkan bahwa sekitar satu perlima wilayah daratan Jepang kini masih didominasi oleh hutan jenis ini, yang membuat produksi serbuk sari berlangsung dalam skala besar setiap tahun.
Dampak dari alergi ini tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga ekonomi. Banyak warga mengalami penurunan konsentrasi, gangguan tidur, hingga penurunan produktivitas kerja. Dalam periode puncak musim alergi, kerugian ekonomi Jepang diperkirakan mencapai miliaran dolar per hari akibat absensi kerja dan penurunan konsumsi masyarakat.
Selain itu, kasus alergi juga berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan pernapasan lain seperti asma. Kondisi ini membuat beban sistem kesehatan meningkat setiap tahun, terutama pada periode musim semi yang kini menjadi salah satu musim paling menantang bagi layanan kesehatan publik.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id