fin.co.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyuarakan optimismenya terkait peluang tercapainya kesepakatan damai dengan Iran. Namun di balik pernyataan tersebut, berbagai pihak menilai jalan menuju perdamaian masih dipenuhi ketidakpastian, terutama karena kompleksitas politik internal Iran dan situasi keamanan di Selat Hormuz yang terus memanas.
Dalam wawancara singkat dengan PBS, Trump mengatakan bahwa peluang kesepakatan masih terbuka meski ia mengakui upaya serupa sebelumnya pernah gagal.
Ia menyebut, “Mereka ingin membuat kesepakatan, mereka ingin bernegosiasi,” tetapi juga menambahkan bahwa hasil akhirnya masih belum pasti.
Pernyataan itu muncul setelah laporan Axios dan Reuters mengungkap bahwa Washington dan Teheran disebut mulai mendekati kesepakatan memorandum satu halaman berisi 14 poin penting untuk menghentikan konflik. Draft tersebut dikabarkan mencakup penghentian permusuhan, pembukaan kembali akses Selat Hormuz, pelonggaran sanksi ekonomi, hingga pembatasan program nuklir Iran.
Namun, sinyal positif itu langsung dibayangi berbagai keraguan.
Kesepakatan Disebut Masih Rapuh
Di Iran sendiri, muncul penolakan terhadap isi proposal tersebut. Juru bicara Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, menyebut 14 poin itu hanya “daftar keinginan Amerika Serikat”.
Ia menegaskan bahwa Iran tetap siap merespons jika Washington tidak memberikan konsesi yang dianggap memadai.
Pernyataan keras itu menunjukkan bahwa elite politik Iran belum sepenuhnya sejalan mengenai arah negosiasi. Situasi ini menjadi salah satu hambatan terbesar bagi pemerintahan Trump.
Grant Rumley, mantan penasihat kebijakan Timur Tengah untuk pemerintahan AS, mengatakan negosiasi seperti ini pernah terlihat menjanjikan sebelumnya, tetapi akhirnya runtuh di menit-menit akhir.
Baca Juga
Menurutnya, meskipun Gedung Putih tampak yakin kesepakatan bisa dicapai, sejarah menunjukkan bahwa pembicaraan AS-Iran sangat mudah berubah karena tekanan politik, militer, maupun kepentingan regional.
Operasi Project Freedom Mendadak Dihentikan
Ketidakpastian juga terlihat dari keputusan mendadak Washington menghentikan “Project Freedom”, operasi yang sebelumnya dirancang untuk membantu kapal-kapal melewati Selat Hormuz dengan pengawalan keamanan Amerika Serikat.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital perdagangan energi dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati kawasan sempit tersebut setiap harinya. Ketegangan militer di wilayah itu dapat langsung memengaruhi harga minyak dunia dan stabilitas ekonomi global.