finco.id - Polemik pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) kembali mencuat setelah sejumlah tokoh nasional menyampaikan kritik tajam terhadap proyek ambisius tersebut.
Ya, dua di antaranya adalah ekonom Didik Rachbini dan Dahlan Iskan yang menyoroti potensi pemborosan anggaran hingga ketidakjelasan manfaat jangka panjang.
IKN Dinilai Berisiko Mangkrak
Didik Rachbini menilai pembangunan IKN berpotensi menjadi beban negara jika tidak segera dimanfaatkan secara optimal. Ia menyebut proyek ini sebagai keputusan politik yang tergesa-gesa dan kurang matang dalam perencanaan.
Menurutnya, kritik dari berbagai kalangan mulai dari akademisi hingga masyarakat, selama ini belum direspons secara serius. Bahkan, ia menilai pemerintah tetap melanjutkan proyek meski banyak masukan yang menilai pembangunan IKN tidak layak.
Namun, Didik juga menawarkan solusi agar aset yang sudah terbangun tidak terbengkalai. Salah satunya dengan menghadirkan pusat pendidikan tinggi di kawasan IKN.
Ia mengusulkan agar kampus-kampus besar seperti Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, dan Institut Teknologi Bandung membuka cabang atau kelas jauh di sana.
Dengan skema tersebut, diperkirakan bisa tercipta hingga 50 ribu mahasiswa setiap tahun. Dalam waktu empat tahun, jumlah populasi baru bisa mencapai 200 ribu orang yang berpotensi menghidupkan ekonomi lokal.
Efek Berganda untuk Ekonomi Lokal
Didik menilai kehadiran mahasiswa akan menciptakan efek berganda (multiplier effect), mulai dari sektor kuliner, transportasi, hingga hunian mahasiswa.
Selain itu, ekosistem pendidikan juga bisa berkembang menjadi pusat riset dan inovasi, bahkan menarik sektor industri dan swasta untuk berinvestasi.
Baca Juga
“Ini cara cepat dan relatif murah untuk menghidupkan IKN dibandingkan program lain seperti transmigrasi,” ujarnya.
Pertanyakan Efektivitas Investasi
Sementara itu, Dahlan Iskan menyoroti pembangunan IKN dari sisi efisiensi ekonomi. Ia mengungkapkan bahwa proyek yang telah menghabiskan ratusan triliun rupiah tersebut belum memberikan hasil nyata.