Hal ini memperkuat dugaan adanya celah sistem yang sengaja dieksploitasi atau bahkan metode kejahatan yang terstruktur.
Kasus pertama menyasar PT XSS, yang harus menelan pil pahit kerugian sebesar Rp1,86 miliar pada Desember 2025.
Tak lama berselang, hanya beberapa hari kemudian, tiga perusahaan lain dilaporkan kehilangan dana sekitar Rp750 juta.
Kejadian ini terjadi dalam satu akun layanan pada tanggal 30 Desember 2025, dengan pola transaksi yang sangat identik.
Namun, kerugian terbesar dicatat oleh PT GMBR yang mencapai Rp3,4 miliar pada Februari 2026.
Besarnya nilai kerugian ini menjadi alasan kuat bagi penyidik untuk meningkatkan fokus investigasi, demi mengungkap akar permasalahan yang sebenarnya.
Korban Kecewa, Sistem Perbankan Dipertanyakan
Para korban, seperti Direktur PT XSS, Heru, mengungkapkan kekecewaan mereka terhadap sistem keamanan perbankan.
Heru mengaku tetap optimistis dana perusahaannya dapat kembali, namun ia menduga kuat pembobolan ini disebabkan oleh kelemahan sistem keamanan layanan perbankan.
“Saya sudah lapor sebelum kejadian, tapi tetap terjadi pembobolan,” ujar Heru, menunjukkan betapa frustrasinya ia.
Ia menjelaskan bahwa laporannya disampaikan sekitar 20 menit sebelum transaksi mencurigakan terjadi.
Baca Juga
Ironisnya, laporan tersebut tidak mampu menghentikan aliran dana keluar yang masif.
Heru juga menyoroti fungsi sistem deteksi transaksi yang ia nilai belum responsif terhadap aktivitas yang tidak wajar.
Terlebih lagi, untuk transaksi bernilai besar yang seharusnya memicu pengamanan tambahan dan peringatan dini.
Kini, penyidik tengah serius melakukan analisis digital forensik.