fin.co.id - Ketegangan baru muncul di dalam NATO setelah Amerika Serikat melontarkan kritik tajam kepada sekutu-sekutunya di Eropa. Isu utama yang disorot adalah ketimpangan kontribusi militer, yang dinilai semakin tidak seimbang di tengah situasi global yang memanas.
Kritik Terbuka dari Amerika Serikat
Pernyataan keras datang dari Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, yang secara terbuka menilai negara-negara Eropa terlalu bergantung pada perlindungan militer Washington. Dalam konferensi pers, ia menegaskan bahwa Amerika tidak lagi bisa terus menanggung beban utama dalam menjaga stabilitas keamanan global.
Ia bahkan menyindir bahwa Eropa seharusnya lebih aktif dalam menghadapi konflik, termasuk ketegangan di Timur Tengah yang berkaitan dengan Iran. Menurutnya, kawasan seperti Selat Hormuz justru jauh lebih vital bagi kepentingan Eropa dibandingkan Amerika.
“Waktunya free riding berakhir,” menjadi pesan tegas yang menggambarkan frustrasi lama Washington terhadap sekutunya.
NATO Disebut Tidak Seimbang
Kritik ini bukan hal baru. Presiden AS sebelumnya, Donald Trump, juga pernah menyebut NATO sebagai “jalan satu arah”. Dalam pandangannya, Amerika memberikan perlindungan besar, sementara banyak anggota lain tidak memberikan kontribusi yang sepadan.
Isu ini semakin sensitif karena NATO terdiri dari 32 negara anggota yang selama ini mengandalkan prinsip pertahanan kolektif. Namun, realitas di lapangan menunjukkan ketimpangan anggaran militer dan kesiapan operasional antarnegara.
Bocoran Pentagon Picu Kekhawatiran
Situasi semakin memanas setelah muncul laporan mengenai email internal Pentagon yang mengindikasikan kemungkinan langkah tekanan diplomatik dari Amerika. Dalam dokumen tersebut, disebutkan bahwa dukungan AS terhadap beberapa kepentingan Eropa bisa ditinjau ulang jika kerja sama tidak membaik.
Salah satu poin sensitif yang mencuat adalah kemungkinan evaluasi terhadap dukungan Amerika atas wilayah-wilayah strategis yang berkaitan dengan negara Eropa, termasuk kawasan yang memiliki sejarah kolonial seperti Kepulauan Falkland.
Langkah semacam ini, jika benar terjadi, berpotensi memicu ketegangan geopolitik baru yang lebih luas.
Baca Juga
NATO Tegaskan Tidak Ada Mekanisme Pengeluaran Anggota
Di tengah memanasnya situasi, NATO menegaskan bahwa tidak ada aturan formal untuk mengeluarkan anggota dari aliansi. Artinya, meskipun konflik internal meningkat, struktur organisasi tetap dirancang untuk mempertahankan keutuhan.