fin.co.id - Ancaman bencana diam-diam membayangi kawasan Everest. Sistem peringatan dini banjir yang seharusnya melindungi ribuan warga justru dilaporkan tidak lagi berfungsi, meninggalkan masyarakat dalam kondisi rawan tanpa kepastian.
Kondisi ini terungkap setelah pejabat Nepal mengakui bahwa sistem tersebut telah lama terbengkalai. Di tengah perubahan alam yang semakin tidak menentu, situasi ini menjadi perhatian serius bagi warga lokal maupun dunia internasional.
Sistem Peringatan yang Terabaikan Bertahun Tahun
Sistem peringatan dini banjir di wilayah Everest awalnya dibangun sebagai bagian dari proyek mitigasi bencana. Tujuannya jelas, memberikan peringatan cepat kepada masyarakat jika terjadi luapan air dari danau gletser yang berpotensi memicu banjir besar.
Namun kenyataan di lapangan jauh dari harapan. Warga di komunitas Sherpa mengungkapkan bahwa tidak ada pemeriksaan rutin terhadap sistem tersebut selama bertahun-tahun. Menara sirene yang dulu menjadi simbol kesiapsiagaan kini berkarat, bahkan beberapa kehilangan sumber daya karena baterainya dicuri.
Seorang warga setempat menyampaikan bahwa mereka sebelumnya dijanjikan inspeksi tahunan. Namun janji tersebut tidak pernah terealisasi. Akibatnya, alat yang seharusnya menjadi penyelamat kini tidak lagi dapat diandalkan.
Danau Imja dan Ancaman yang Masih Nyata
Danau Imja, yang terletak di ketinggian lebih dari 5.000 meter, menjadi salah satu titik rawan di kawasan Everest. Danau ini pernah mengalami pengurangan volume air pada tahun 2016 melalui proyek mitigasi berbiaya jutaan dolar.
Saat itu, permukaan air diturunkan untuk mengurangi risiko luapan. Namun setelah proyek selesai, pemeliharaan terhadap sistem pendukung justru terhenti.
Padahal, ancaman dari danau gletser tidak pernah benar-benar hilang. Perubahan kondisi alam terus berlangsung, sementara sistem yang dirancang untuk mengantisipasinya justru dibiarkan rusak.
Warga Hidup dalam Ketidakpastian
Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar Everest, kondisi ini bukan sekadar isu teknis. Ini adalah persoalan hidup dan mati.
Baca Juga
Tanpa sistem peringatan dini yang berfungsi, mereka tidak memiliki cukup waktu untuk menyelamatkan diri jika banjir terjadi. Jalur evakuasi yang sulit dan medan yang ekstrem membuat kecepatan informasi menjadi sangat krusial.
Kehidupan sehari-hari pun diliputi rasa waswas. Aktivitas seperti bertani, berdagang, hingga menerima wisatawan dilakukan di tengah bayang-bayang ancaman yang tidak terlihat.