Internasional . 20/04/2026, 13:29 WIB
fin.co.id - Di tengah ambisi besar membangun transportasi modern, India justru menghadapi kenyataan yang tidak sepenuhnya sesuai harapan. Jaringan MRT yang dibangun dengan investasi miliaran dolar ternyata belum mampu menarik jumlah penumpang seperti yang diproyeksikan sejak awal.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah India di bawah kepemimpinan Narendra Modi menggelontorkan dana lebih dari 26 miliar dolar AS untuk memperluas jaringan transportasi rel perkotaan di berbagai kota besar. Dari yang semula hanya beberapa ratus kilometer, jaringan ini kini telah berkembang pesat hingga melampaui 1.000 kilometer dan menjangkau hampir dua puluh kota.
Namun, di balik pertumbuhan tersebut, muncul pertanyaan besar: ke mana para penumpangnya?
Salah satu contoh nyata terlihat di jalur Aqua Line di Mumbai. Jalur ini dibangun sebagai sistem MRT bawah tanah modern yang menghubungkan pusat bisnis lama hingga kawasan komersial baru dan bandara. Dengan panjang lebih dari 30 kilometer, jalur ini diproyeksikan mampu mengangkut hingga 1,5 juta penumpang setiap hari.
Kenyataannya jauh dari angka tersebut. Estimasi menunjukkan jumlah penumpang hanya sekitar sepersepuluh dari target. Pada jam-jam tertentu, stasiun bahkan terlihat sepi, jauh dari gambaran kota padat seperti Mumbai yang identik dengan keramaian.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di satu kota. Laporan dari Indian Institute of Technology Delhi pada 2023 menunjukkan bahwa banyak jalur MRT di India hanya mencapai 25 hingga 35 persen dari target penumpang. Bahkan di beberapa kota tingkat menengah, angka ini bisa jauh lebih rendah.
Salah satu faktor yang paling sering disebut adalah tarif yang dianggap terlalu tinggi. Untuk perjalanan di jalur MRT tertentu, biaya yang harus dibayar bisa mencapai puluhan rupee per perjalanan. Bagi masyarakat berpenghasilan rendah, angka ini cukup memberatkan.
Sebagai perbandingan, layanan kereta lokal di Mumbai menawarkan tarif yang jauh lebih murah untuk perjalanan rutin. Perbedaan ini membuat banyak warga tetap memilih moda transportasi lama yang lebih terjangkau, meskipun sering kali lebih padat dan kurang nyaman.
Seorang petugas tiket bahkan mengakui bahwa harga menjadi alasan utama minimnya pengguna. Pernyataan ini mencerminkan realitas bahwa aksesibilitas ekonomi masih menjadi tantangan besar bagi transportasi modern di negara berkembang.
Selain tarif, ada sejumlah faktor lain yang turut memengaruhi rendahnya minat masyarakat terhadap MRT. Salah satunya adalah perencanaan yang kurang tepat dalam memprediksi jumlah penumpang.
Dalam beberapa kasus, proyeksi awal dinilai terlalu optimistis demi menunjukkan bahwa proyek layak secara ekonomi. Namun ketika dioperasikan, kapasitas dan frekuensi layanan tidak selalu sesuai dengan rencana awal.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id