fin.co.id - Selat Hormuz kembali menjadi pusat ketegangan dunia. Baru saja dibuka setelah jeda singkat, Iran kembali menutup jalur pelayaran vital tersebut dan mengeluarkan ancaman keras terhadap kapal yang berani mendekat. Situasi ini langsung memicu kekhawatiran global, terutama terkait distribusi energi dunia.
Penutupan Mendadak Picu Ketegangan Baru
Iran secara resmi mengumumkan penutupan kembali Selat Hormuz untuk kapal komersial. Keputusan ini disertai peringatan tegas bahwa setiap kapal yang mencoba melintas akan dianggap sebagai pihak yang bekerja sama dengan musuh.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh pasukan Garda Revolusi Iran, yang menegaskan bahwa tidak ada kapal yang diperbolehkan bergerak dari titik jangkar di kawasan Teluk Persia maupun Laut Oman. Penutupan ini terjadi hanya sehari setelah jalur tersebut sempat dibuka kembali secara terbatas.
Situasi menjadi semakin tegang karena laporan menyebutkan adanya kapal, termasuk tanker minyak, yang telah menjadi target serangan di sekitar wilayah tersebut.
Konflik dengan Amerika Serikat Jadi Pemicu
Langkah Iran ini tidak bisa dilepaskan dari meningkatnya konflik dengan Amerika Serikat. Pemerintah Iran menuding blokade laut yang dilakukan AS terhadap pelabuhan mereka sebagai alasan utama penutupan kembali Selat Hormuz.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, menegaskan bahwa negaranya tidak akan tunduk pada tekanan Iran. Ia menyebut bahwa Iran tidak bisa menggunakan Selat Hormuz sebagai alat untuk “memeras” dunia internasional.
Blokade yang dilakukan AS disebut akan terus berlanjut hingga tercapai kesepakatan damai antara kedua negara. Kondisi ini membuat jalur diplomasi semakin sempit, sementara risiko konflik terbuka justru meningkat.
Jalur Vital Energi Dunia dalam Ancaman
Selat Hormuz bukan sekadar jalur laut biasa. Kawasan ini merupakan salah satu titik paling strategis dalam distribusi energi global. Sekitar sepertiga pasokan minyak dunia dikirim melalui jalur ini setiap harinya.
Penutupan Selat Hormuz secara langsung berdampak pada lonjakan harga minyak global. Ketidakpastian yang terjadi membuat pasar energi menjadi sangat sensitif, dengan fluktuasi harga yang tajam dalam waktu singkat.
Baca Juga
Kondisi ini juga berdampak pada negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi, termasuk di kawasan Asia. Ketika distribusi terganggu, efek domino bisa meluas ke sektor ekonomi lainnya.