fin.co.id - Upaya pencarian besar-besaran tengah dilakukan setelah sebuah kapal kargo dilaporkan lumpuh dan kehilangan komunikasi di tengah terjangan Topan Sinlaku. Enam awak kapal hingga kini masih dinyatakan hilang, sementara kondisi cuaca ekstrem sempat memaksa tim penyelamat menghentikan operasi.
Insiden ini terjadi di perairan dekat Guam, wilayah strategis di Pasifik yang juga menjadi lokasi sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat. Kapal yang terlibat diketahui bernama Mariana, sebuah kapal kargo kering sepanjang sekitar 145 kaki.
Kronologi Kapal Kehilangan Kendali
Masalah bermula ketika awak kapal melaporkan kerusakan serius pada mesin kanan atau starboard engine. Dalam kondisi darurat tersebut, kapal meminta bantuan karena tidak lagi mampu bermanuver secara normal di tengah cuaca yang semakin memburuk.
Namun situasi berubah drastis keesokan harinya. Kontak dengan kapal tiba-tiba terputus, meninggalkan tanda tanya besar terkait nasib enam awak di dalamnya. Sejak saat itu, kapal tidak lagi memberikan sinyal atau respons apa pun.
Kondisi ini langsung memicu operasi pencarian oleh United States Coast Guard. Sebuah pesawat HC-130 Hercules dikerahkan untuk menyisir area laut tempat kapal terakhir terdeteksi.
Cuaca Ekstrem Hambat Proses Penyelamatan
Sayangnya, misi pencarian tidak berjalan mulus. Angin kencang dan gelombang tinggi akibat Typhoon Sinlaku memaksa pesawat kembali ke pangkalan sebelum operasi selesai.
Petugas penjaga pantai, Avery Tibbets, menyatakan bahwa pencarian akan dilanjutkan kembali saat kondisi memungkinkan. “Operasi akan dilanjutkan saat fajar ketika cuaca lebih aman,” ujarnya.
Topan Sinlaku sendiri telah menghantam kawasan Kepulauan Mariana Utara selama beberapa hari terakhir. Dampaknya terasa luas, mulai dari pohon tumbang hingga banjir bandang di berbagai wilayah.
Dampak Luas di Wilayah Pasifik
Pulau-pulau seperti Tinian dan Saipan dilaporkan mengalami kerusakan signifikan akibat terjangan angin kencang dan hujan deras. Di Guam, banjir bandang sempat melanda sejumlah area, memaksa warga untuk berlindung di dalam rumah.
Baca Juga
Pejabat dari badan manajemen darurat Amerika Serikat, Robert Fenton, menyebutkan bahwa berbagai lembaga federal kini meningkatkan respons terhadap bencana ini.
Seiring meredanya intensitas badai, beberapa peringatan untuk tetap berada di dalam rumah mulai dicabut. Namun, ancaman sisa cuaca buruk masih tetap ada, terutama bagi operasi pencarian di laut terbuka.