fin.co.id - Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam setelah Iran mengumumkan bahwa Selat Hormuz kembali dibuka untuk kapal komersial selama masa gencatan senjata. Reaksi pasar berlangsung cepat, mencerminkan besarnya pengaruh jalur ini terhadap pasokan energi global.
Pasar Langsung Bereaksi Keras
Harga minyak jenis Brent anjlok hingga sekitar 88 dolar AS per barel, turun lebih dari 10 persen hanya dalam satu hari perdagangan. Sebelumnya, harga sempat berada di atas 98 dolar dan bahkan pernah menembus lebih dari 119 dolar saat konflik memuncak.
Penurunan ini terjadi karena pelaku pasar melihat peluang kembalinya pasokan minyak ke jalur normal. Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar seperlima distribusi minyak dan gas dunia, sehingga setiap gangguan langsung berdampak besar terhadap harga global.
Selat Hormuz Jadi Kunci Ketegangan Energi
Selama konflik berlangsung, Iran secara efektif membatasi akses di Selat Hormuz. Akibatnya, lalu lintas kapal tanker turun drastis dan pasokan energi global terganggu.
Begitu Iran menyatakan jalur tersebut “sepenuhnya terbuka” untuk kapal komersial, optimisme langsung muncul di pasar. Seorang pejabat Iran menegaskan bahwa seluruh kapal dagang dapat melintas selama periode gencatan senjata berlangsung.
Dampaknya tidak hanya terasa di sektor energi. Pasar saham global ikut menguat, dengan indeks utama di Amerika Serikat dan Eropa mencatat kenaikan setelah kekhawatiran pasokan mulai mereda.
Realita di Lapangan Masih Penuh Risiko
Meski secara resmi dibuka, kondisi di lapangan belum sepenuhnya aman. Sejumlah perusahaan pelayaran masih menahan diri untuk melintasi jalur tersebut.
Kekhawatiran utama datang dari potensi ancaman keamanan, termasuk risiko ranjau laut dan ketidakpastian situasi militer. Banyak operator kapal memilih menunggu kepastian sebelum kembali beroperasi secara normal.
Situasi ini membuat penurunan harga minyak lebih didorong oleh ekspektasi pasar, bukan karena pasokan benar-benar sudah pulih sepenuhnya.
Baca Juga
Gencatan Senjata Hanya Bersifat Sementara
Pembukaan Selat Hormuz terjadi di tengah gencatan senjata yang bersifat sementara. Kesepakatan ini hanya memberikan “jendela sempit” bagi kapal tanker untuk kembali beroperasi.