Gencatan Senjata Israel-Lebanon Dimulai, Harapan dan Keraguan Muncul Bersamaan

fin.co.id - 17/04/2026, 18:45 WIB

Gencatan Senjata Israel-Lebanon Dimulai, Harapan dan Keraguan Muncul Bersamaan

Gencatan Senjata, Image: DALL·E 3

fin.co.id - Gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Lebanon resmi dimulai di tengah suasana kontras: perayaan meriah di Beirut, namun kegelisahan masih terasa di wilayah perbatasan. Kesepakatan ini menjadi titik jeda pertama setelah enam minggu konflik intens yang menelan ribuan korban dan memicu krisis kemanusiaan.

Perayaan di Beirut, Luka yang Belum Sembuh

Di ibu kota Lebanon, Beirut, warga turun ke jalan merayakan dimulainya gencatan senjata. Kembang api menghiasi langit malam, menciptakan suasana yang hampir terasa seperti kemenangan. Namun di balik euforia itu, kenyataan pahit masih membayangi.

Lebih dari 2.000 orang dilaporkan tewas selama konflik enam minggu terakhir. Sekitar satu dari lima warga Lebanon terpaksa meninggalkan rumah mereka. Banyak keluarga kini hidup dalam ketidakpastian, menunggu apakah jeda ini benar-benar akan membawa perdamaian yang lebih permanen.

Seorang jurnalis BBC di lapangan melaporkan bahwa masyarakat Lebanon “sangat membutuhkan jeda” dari kekerasan yang tak kunjung berhenti. Ungkapan ini mencerminkan kelelahan kolektif yang dirasakan warga sipil setelah berminggu-minggu berada di bawah ancaman serangan.

Ketegangan di Pihak Israel

Di sisi lain perbatasan, reaksi warga Israel tidak sepenuhnya sejalan dengan suasana perayaan di Beirut. Media Israel melaporkan bahwa sejumlah warga di wilayah utara, dekat perbatasan Lebanon, merasa dikhianati oleh keputusan gencatan senjata ini.

Konflik tersebut menewaskan dua warga sipil Israel dan 13 tentara. Meski jumlah korban jauh lebih kecil dibandingkan Lebanon, dampak psikologis dan rasa tidak aman tetap signifikan, terutama bagi komunitas yang tinggal di garis depan konflik.

Perasaan “dikhianati” ini muncul karena kekhawatiran bahwa gencatan senjata hanya memberi waktu bagi pihak lawan untuk memperkuat diri, tanpa menyelesaikan akar masalah yang ada.

Zona Keamanan dan Realitas di Lapangan

Israel menyatakan bahwa pasukannya akan tetap berada di zona keamanan sedalam 10 kilometer di wilayah selatan Lebanon. Keputusan ini menambah kompleksitas situasi di lapangan.

Seorang pria berusia 70-an tahun yang diwawancarai BBC berdiri di dekat batas zona tersebut. Ia mengatakan rumahnya hanya berjarak beberapa meter dari tempatnya berdiri, namun ia tidak diizinkan kembali.

Kisah ini menggambarkan dampak nyata dari kebijakan militer terhadap kehidupan warga sipil. Gencatan senjata tidak serta-merta berarti normalisasi kehidupan bagi mereka yang tinggal di wilayah konflik.

Gencatan Senjata yang Rapuh

Makruf
Makruf
Penulis

Penulis FIN.CO.ID