Oleh: Sigit Nugroho
Dunia saya mendadak penuh kembang api. Indah, tapi mematikan. Tiap kali mata kanan saya melirik, ada kilatan cahaya—flash—yang menyambar. Lalu muncul bintik-bintik hitam beterbangan seperti lalat yang tak bisa diusir.
Saya pikir itu hanya efek kurang tidur. Maklum, saya sedang "gila". Libur di I News saya pakai untuk memeras keringat di Ipotnews. Sebaliknya pun begitu.
"Mungkin sudah waktunya berkacamata," kata istri saya, Dewi Astuti.
Kami ke optik di Jalan Syahdan, dekat kampus Binus. Hasilnya mengejutkan: mata kanan saya tiba-tiba minus 4. Saya pakai kacamata itu. Tapi hanya bertahan dua hari. Setelah itu, mata saya malah banjir air mata. Merah. Pegal luar biasa.
"Harus ke dokter spesialis!" desak istri.
Di RS Permata Hijau, suasananya berubah tegang. Dokter wanita yang memeriksa saya tampak gelisah. Dia lama sekali meneliti mata saya, lalu menelepon koleganya di JEC Kedoya. Suaranya berbisik-bisik, tapi nada bicaranya gawat.
"Harus ke JEC. Sekarang. Detik ini juga!" perintahnya.
Dia meneteskan obat yang membuat mata saya kehilangan fokus sama sekali. Ngeblur. Tapi saya ini keras kepala. Saya tetap memacu Honda Vario 110 saya menembus kemacetan Jakarta. Bayangkan: mata kanan rusak, mata kiri ngeblur kena obat, saya masih berani membonceng istri. Itulah kenekatan seorang reporter muda yang belum sadar maut sedang mengintip matanya.
Di JEC Kedoya, peralatan bicara lebih jujur. Vonisnya: Ablasi Retina.
Retina saya terkelupas dari dindingnya. Kilatan cahaya yang saya lihat itu ternyata suara jeritan syaraf saya yang lepas satu per satu dari orbitnya. Penglihatan saya tinggal 30 persen. Sisanya? Kegelapan.
Baca Juga
"Harus operasi secepatnya kalau tidak mau buta permanen," kata dokter.
Biayanya? Rp45 juta. Hanya untuk biaya meja operasi. Belum rawat inapnya.
Dunia rasanya runtuh. Saya hanya reporter. Tabungan? Nol besar. Uang dari mana sebanyak itu?
Untung ada secercah jalan. Kami direkomendasikan ke RS Mata Aini di Kuningan agar asuransi kantor bisa masuk. Di sana, saya bertemu sang maestro: Dokter Andi Victor. Beliau guru para dokter spesialis mata.
Retina saya dijahit kembali. Diganjal dengan silikon agar menempel. Pasca-operasi adalah siksaan neraka. Mata bengkak sebesar kepalan tangan. Luka bekas bedahnya terasa menyayat. Dua hari saya harus tidur tengkurap. Tidak boleh menengok. Tidak boleh bergerak.