Internasional . 04/04/2026, 16:30 WIB
fin.co.id - Oracle dilaporkan memberhentikan sekitar 10.000 karyawan di tengah investasi besar-besaran di bidang kecerdasan buatan. PHK massal ini menandai babak baru efisiensi tenaga kerja yang didorong oleh otomatisasi berbasis AI.
Raksasa teknologi Oracle terus mengintegrasikan AI ke dalam operasional internal mereka. Eksekutif perusahaan sebelumnya menyatakan bahwa AI memungkinkan lebih sedikit karyawan untuk menyelesaikan lebih banyak pekerjaan. Kini, klaim tersebut terbukti nyata dengan gelombang PHK yang menyasar insinyur senior, arsitek, manajer program, dan spesialis teknis, menurut unggahan karyawan di LinkedIn. Oracle sendiri menolak berkomentar saat dihubungi BBC.
PHK 10.000 karyawan Oracle bukanlah kasus pemutusan hubungan kerja biasa. Yang mencolok, korban PHK justru mencakup posisi-posisi senior yang biasanya dianggap aman dari gelombang efisiensi. Seorang manajer senior Oracle, Michael Shepherd, menegaskan bahwa pengurangan besar-besaran ini tidak didasarkan pada kinerja karyawan. "Individu yang terkena dampak tidak dipecat karena sesuatu yang mereka lakukan atau tidak lakukan," tulisnya. Artinya, AI telah mencapai tingkat kematangan yang memungkinkan perusahaan menggantikan peran teknis kompleks yang sebelumnya hanya bisa dilakukan oleh tenaga ahli berpengalaman. Oracle menggunakan AI untuk mengotomatisasi tugas-tugas seperti pemeliharaan sistem, debugging, hingga manajemen infrastruktur cloud, sehingga kebutuhan akan tenaga manusia berkurang drastis.
Di satu sisi, Oracle sedang gencar berinvestasi miliaran dolar ke dalam pengembangan AI. Di sisi lain, mereka memangkas ribuan karyawan yang justru bisa berkontribusi pada proyek-proyek AI tersebut. Ini menciptakan ironi: perusahaan teknologi besar memanfaatkan AI untuk memangkas biaya tenaga kerja, bukan untuk memperluas tim inovasi. Sumber internal Oracle menyebutkan, penurunan drastis karyawan aktif di platform komunikasi internal Slack menjadi indikator utama skala PHK. Fakta bahwa Oracle menolak berkomentar secara resmi menambah kesan bahwa kebijakan ini sensitif dan berpotensi memicu reaksi negatif dari publik serta regulator ketenagakerjaan.
Dalam perspektif ilmu manajemen modern, efisiensi memang merupakan tujuan utama perusahaan. Namun, secara budaya dan religius, PHK massal yang tidak berdasarkan kinerja menimbulkan pertanyaan etis. Banyak tradisi, termasuk ajaran agama, menekankan bahwa setiap individu berhak diperlakukan adil berdasarkan usaha dan kemampuannya. Ketika seseorang diberhentikan bukan karena kesalahan atau kinerja buruk, melainkan karena algoritma atau otomatisasi, maka nilai-nilai keadilan sosial terasa terganggu. Secara ilmiah, fenomena ini disebut technological unemployment, sebuah konsep yang diprediksi para ekonom sejak Revolusi Industri 4.0. Bedanya, kini dampaknya tidak lagi menyasar pekerja kasar, tetapi tenaga terdidik kelas atas.
Jika Anda bekerja di industri teknologi dan khawatir tren efisiensi AI akan mengancam posisi Anda, berikut langkah-langkah yang bisa dilakukan:
Ya, meskipun Oracle tidak mengonfirmasi secara resmi, pernyataan internal dan laporan karyawan menunjukkan bahwa AI memungkinkan perusahaan beroperasi dengan lebih sedikit staf. Eksekutif Oracle sebelumnya telah menyatakan bahwa AI meningkatkan produktivitas per karyawan.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id