fin.co.id - Pada awal April 2026, NASA resmi memasuki babak baru eksplorasi luar angkasa melalui Misi Artemis II, sebuah misi berawak pertama menuju lingkungan Bulan sejak era Apollo lebih dari 50 tahun lalu. Peluncuran yang dilakukan pada 1 April 2026 menjadi tonggak penting, bukan hanya bagi Amerika Serikat, tetapi juga bagi kolaborasi internasional dalam eksplorasi luar angkasa.
Misi ini bukan pendaratan, melainkan uji coba berawak untuk memastikan sistem bekerja sempurna sebelum manusia kembali menjejakkan kaki di Bulan dalam misi berikutnya.
Profil Misi dan Tujuan Utama
Artemis II dirancang sebagai misi flyby Bulan selama kurang lebih 10 hari. Awak akan melakukan perjalanan keluar orbit rendah Bumi, mengelilingi Bulan, lalu kembali ke Bumi dengan lintasan free-return trajectory, yang memungkinkan mereka kembali secara otomatis jika terjadi kegagalan sistem.
Beberapa tujuan utama misi ini meliputi:
-
Menguji sistem pendukung kehidupan di luar orbit Bumi
-
Validasi navigasi dan komunikasi deep space
-
Uji kendali manual pesawat oleh astronaut
-
Evaluasi performa pelindung panas saat re-entry
Dalam laporan terbaru, misi ini bahkan diproyeksikan memecahkan rekor jarak terjauh yang pernah dicapai manusia dari Bumi, melampaui misi Apollo 13.
Baca Juga
Spesifikasi Teknis: Roket SLS dan Pesawat Orion
Space Launch System (SLS)
SLS merupakan roket paling kuat yang pernah dikembangkan NASA untuk misi eksplorasi manusia ke luar orbit Bumi.
Karakteristik utama:
-
Tinggi: sekitar 98 meter
-
Kapasitas: mampu membawa kru dan kargo langsung ke Bulan dalam satu peluncuran
-
Tahap inti menggunakan bahan bakar hidrogen cair dan oksigen cair
-
Dilengkapi booster padat untuk dorongan awal
NASA menyebut SLS sebagai satu-satunya roket yang mampu mengirim Orion beserta awaknya langsung ke Bulan tanpa perlu perakitan di orbit.