Suplai Minyak Terganggu, Menteri Dody Kurangi 50% Impor Aspal dengan Kewajiban Asbuton (A30)

fin.co.id - 02/04/2026, 18:31 WIB

Suplai Minyak Terganggu, Menteri Dody Kurangi 50% Impor Aspal dengan Kewajiban Asbuton (A30)

Berita Terbaru: Indonesia Ambil Langkah Genting!

Indonesia Perkuat Ketahanan Infrastruktur Lewat Aspal Lokal

Ringkasan :

  • Indonesia berupaya mengurangi ketergantungan pada aspal impor akibat ketegangan geopolitik global.
  • Presiden Prabowo Subianto mengarahkan pemanfaatan sumber daya alam dalam negeri untuk menjaga pembangunan nasional.
  • Kebijakan baru mendorong penggunaan Aspal Buton olahan untuk substitusi aspal impor.

Di tengah gejolak geopolitik dunia yang kian memanas, terutama di kawasan Timur Tengah, Indonesia mengambil langkah strategis untuk melindungi roda pembangunan nasional dari ancaman ketidakpastian pasokan dan harga minyak dunia. Ketergantungan pada material berbasis minyak bumi, seperti aspal impor, kini terbukti semakin rentan terhadap fluktuasi energi global yang tak terduga.

Presiden Prabowo Subianto dengan tegas menekankan pentingnya memaksimalkan potensi sumber daya alam domestik. Beliau menginstruksikan agar Indonesia tidak bisa terus-menerus bergantung pada pasokan dari luar, apalagi di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian. Pengamanan ketersediaan energi dan material strategis nasional menjadi prioritas utama untuk menjaga keberlanjutan pembangunan.

Strategi Jitu Menteri PUPR: Gebrakan Aspal Buton

Menindaklanjuti arahan langsung dari Presiden, Menteri Pekerjaan Umum (PUPR) Dody Hanggodo meluncurkan sebuah kebijakan revolusioner. Ia menginisiasi peningkatan penggunaan Aspal Buton olahan sebagai garda terdepan dalam strategi mengurangi ketergantungan impor. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat fondasi ketahanan infrastruktur bangsa secara signifikan.

“Sesuai arahan Presiden Prabowo, kita tidak bisa sepenuhnya bergantung pada sumber daya dari luar, terutama di tengah situasi global yang tidak pasti. Apa yang kita miliki di dalam negeri harus menjadi kekuatan utama,” ujar Dody, menegaskan komitmen pemerintah. Pernyataan ini menggarisbawahi semangat kemandirian yang digaungkan oleh pemerintahan saat ini.

Selama ini, mayoritas kebutuhan aspal nasional memang berasal dari turunan minyak bumi. Ketika pasokan minyak global terganggu akibat konflik atau ketegangan geopolitik, harga aspal pun ikut melambung tinggi. Tentunya, lonjakan harga ini langsung membebani anggaran pembangunan jalan dan infrastruktur lainnya. Kondisi inilah yang menjadi titik lemah krusial dan mengharuskan adanya solusi segera.

Potensi Luar Biasa Aspal Buton yang Belum Maksimal

Indonesia dianugerahi kekayaan alam berupa Aspal Buton, sumber daya yang melimpah ruah dan memiliki kualitas kelas dunia. Namun, ironisnya, pemanfaatan Aspal Buton olahan dalam lima tahun terakhir masih terbilang minim. Rata-rata, hanya sekitar 4 persen dari total kebutuhan aspal nasional yang berhasil dipenuhi oleh produk dalam negeri ini.

Angka ini menunjukkan jurang pemisah yang lebar antara potensi yang dimiliki dan realisasi pemanfaatan. “Saat ini, sekitar 78 persen kebutuhan aspal nasional masih dipenuhi dari impor. Total kebutuhan pada 2024 diproyeksikan mencapai 1,056 juta ton, dan angka ini diperkirakan akan terus meningkat hingga 1,5 juta ton per tahun,” jelas Dody.

Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah kini mendorong percepatan regulasi kebijakan wajib penggunaan Aspal Buton olahan. Targetnya ambisius: substitusi minimal 30 persen (A30) dalam setiap campuran beraspal. Kebijakan ini diproyeksikan mampu menekan angka ketergantungan aspal impor hingga separuhnya, sebuah capaian yang patut diacungi jempol.

Dampak Positif Multifaset: Hemat Devisa hingga Dongkrak Industri Lokal

FIN
FIN
Penulis

Penulis FIN.CO.ID