fin.co.id - Ketegangan antara Amerika Serikat-Israel dan Iran membawa dampak serius bagi sektor pertanian dunia, termasuk Indonesia. Salah satu masalah utama yang muncul adalah terganggunya pasokan pupuk berbasis nitrogen.
Mengingat negara-negara Teluk merupakan produsen kunci bahan baku ini, gangguan distribusi akibat konflik dapat mengancam keamanan pangan global secara sistemik.
Risiko Kelangkaan Bahan Baku Pupuk Kimia Impor
Guru Besar Fakultas Pertanian UGM, Prof. Subejo, menjelaskan bahwa peperangan di Timur Tengah memicu kelangkaan pasokan nitrogen yang menjadi bahan dasar pupuk kimia. Jika konflik ini berlangsung lama dan kapal pengangkut bahan baku gagal bersandar di Indonesia, ketahanan pangan kita akan berada dalam posisi berisiko.
Menurut Prof. Subejo, stok pupuk untuk musim tanam saat ini kemungkinan masih aman. Namun, tantangan besar akan muncul pada masa tanam Juni atau Juli mendatang. "Apabila distribusi bahan baku tidak lancar, ketersediaan pupuk untuk periode tersebut akan sangat terancam," ungkapnya, Senin, 30 Maret 2026.
Momentum Emas Beralih ke Pupuk Organik dan Hayati
Meski situasi terlihat sulit, Prof. Subejo melihat celah besar untuk meningkatkan kemandirian nasional. Indonesia tidak perlu bergantung sepenuhnya pada impor karena memiliki sumber daya melimpah untuk memproduksi nutrisi tanaman di dalam negeri. Pupuk organik dari kotoran ternak serta kompos dari limbah organik dapat menjadi solusi cerdas untuk menggantikan ketergantungan pada zat kimia.
Pemerintah dan sektor swasta perlu berkolaborasi serius untuk mengoptimalkan potensi lokal ini. Strategi ini bukan sekadar upaya bertahan, melainkan momentum tepat untuk mentransformasi sistem pertanian agar lebih berkelanjutan dan mandiri secara energi maupun bahan baku.
Antisipasi Krisis Melalui Ketahanan Desa dan BUMDES
Jika ketersediaan pupuk non-organik merosot hingga 50 persen, risiko kegagalan panen akan meningkat tajam. Oleh karena itu, langkah antisipasi harus mulai berjalan sejak tingkat desa. Prof. Subejo menyarankan penguatan peran kelompok tani dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) dalam memproduksi pupuk secara mandiri.
Pengadaan mesin pengolah pupuk organik berskala desa menjadi solusi praktis. "Kita harus bersiap dari sekarang. Jika dalam empat bulan ke depan bahan baku impor benar-benar terhenti dan kita tidak siap, petani akan kesulitan memproduksi berbagai komoditas pangan," tegas Subejo.
Edukasi dan Infrastruktur: Kunci Menghadapi Kelangkaan
Pemerintah memegang peranan krusial dalam mengedukasi masyarakat agar tidak terus bergantung pada pupuk kimia. Langkah nyata yang bisa diambil antara lain:
- Sosialisasi masif mengenai manfaat dan cara penggunaan pupuk organik.
- Pemberian bantuan mesin pengolah limbah organik di tingkat desa.
- Pelatihan teknis bagi petani untuk memproduksi nutrisi tanaman secara mandiri.