Jika Harga Minyak Tembus 150 Dolar, Dunia Terancam Resesi Berat

fin.co.id - 25/03/2026, 10:16 WIB

Jika Harga Minyak Tembus 150 Dolar, Dunia Terancam Resesi Berat

Ancaman Resesi, Image: DALL·E 3

fin.co.id - Bos raksasa keuangan dunia, Larry Fink, CEO BlackRock, memperingatkan bahwa lonjakan harga minyak hingga 150 dolar per barel bisa memicu resesi global yang serius. Dalam wawancara eksklusif dengan BBC, Fink menyatakan, “Jika Iran tetap menjadi ancaman dan harga minyak tinggi, dampaknya terhadap ekonomi dunia akan sangat mendalam.”

Sebagai pemimpin perusahaan pengelola aset terbesar di dunia dengan nilai 14 triliun dolar, Fink memiliki wawasan unik tentang kondisi ekonomi global. Menurutnya, ketegangan di Timur Tengah telah menyebabkan fluktuasi pasar energi yang drastis, dan skenario terbaik maupun terburuk masih mungkin terjadi.

Skenario Terbaik dan Terburuk Harga Minyak

Dalam skenario optimistis, jika konflik mereda dan Iran kembali diterima oleh komunitas internasional, harga minyak bisa turun di bawah level sebelum krisis. Namun, jika ketegangan berlanjut, Fink memperkirakan harga minyak akan berada di atas 100 dolar per barel, bahkan mendekati 150 dolar, yang dapat menghasilkan resesi tajam dan berdampak luas pada pertumbuhan global.

Fink menekankan bahwa kenaikan harga energi secara langsung menjadi “pajak regresif” yang paling dirasakan masyarakat miskin. Dia menambahkan, kenaikan harga minyak jangka panjang dapat mendorong negara-negara lebih agresif mengembangkan energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin. “Gunakan semua sumber energi yang tersedia, tapi juga bergerak cepat menuju alternatif yang lebih bersih,” ujar Fink.

Perbedaan dengan Krisis Finansial 2007–08

Meskipun beberapa analis membandingkan situasi saat ini dengan krisis finansial 2007–08, Fink menegaskan bahwa kondisi sekarang jauh berbeda. “Saya tidak melihat kesamaan sama sekali. Nol,” katanya. Struktur finansial saat ini lebih aman dan investasi institusi tetap kuat, meskipun beberapa dana menghadapi penarikan terbatas.

AI, Pekerjaan, dan Masa Depan Ekonomi

Selain isu energi, Fink juga menyinggung peran teknologi dan AI dalam ekonomi modern. Dia menekankan bahwa investasi di AI sangat penting, terutama untuk mempertahankan daya saing dengan China. Meski demikian, dia juga memperingatkan bahwa teknologi baru akan mengubah struktur pekerjaan. Banyak pekerjaan kantor mungkin berkurang, sementara kebutuhan terhadap tukang listrik, tukang ledeng, dan pekerja terampil lainnya akan meningkat. “Kita perlu menyeimbangkan kembali pendidikan dan karier. Tidak semua orang harus kuliah; keterampilan tangan juga sangat berharga,” jelasnya.

Dampak Global dan Strategi Mitigasi

Dalam konteks global, peringatan Fink menjadi alarm bagi negara-negara yang bergantung pada energi fosil. Kombinasi ketegangan geopolitik dan harga minyak tinggi bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi, menaikkan inflasi, dan menekan daya beli masyarakat. Hal ini menegaskan pentingnya diversifikasi energi, efisiensi konsumsi, dan perencanaan ekonomi yang lebih tangguh.

Lonjakan harga minyak hingga 150 dolar per barel bukan sekadar angka, melainkan indikator risiko nyata yang dapat memicu resesi besar di berbagai belahan dunia. Bagi investor, pengambil kebijakan, dan masyarakat, kesadaran akan ancaman ini menjadi kunci dalam menyiapkan strategi mitigasi dan menghadapi ketidakpastian ekonomi global.

Referensi:

BlackRock boss Larry Fink: Oil at $150 will trigger global recession – BBC News

Makruf
Makruf
Penulis

Penulis FIN.CO.ID