“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,’ mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.’”
Inilah puncak dari kesombongan; melakukan kehancuran sistematis namun mengklaimnya sebagai upaya menciptakan ketertiban. Pengabaian terhadap berbagai resolusi internasional menjadi bukti empiris bahwa keadilan dunia saat ini sedang berada di titik nadir, di mana hukum hanya berlaku bagi mereka yang lemah, namun tumpul di hadapan mereka yang memiliki kekuatan senjata.
Refleksi kita pada hari raya ini tidak akan lengkap tanpa kita menoleh dengan jujur ke dalam diri kita sendiri. Realitas dunia Islam hari ini sungguh memprihatinkan. Di tengah kepungan krisis geopolitik, kita justru terjebak dalam fragmentasi (keterpecahan) yang akut. Umat Islam yang jumlahnya kini mencapai hampir dua miliar jiwa tampak tercerai-berai, kehilangan orientasi sebagai satu tubuh yang saling menguatkan.
Sangat menyedihkan ketika kita melihat sebagian kekuatan dunia Islam justru lebih memilih membangun koalisi dengan kekuatan Barat yang memiliki watak penjajah daripada mempererat kerja sama strategis dengan sesama dunia Islam atau mereka yang punya ketulusan menegakkan keadilan.
Kita sedang mengalami krisis kepemimpinan yang kronis. Banyak pemimpin dunia Islam yang kehilangan visi besar untuk melihat peradaban Islam sebagai sebuah entitas yang bersatu, kuat, dan mandiri. Tanpa persatuan umat Islam serta kemandirian dalam bidang teknologi, ekonomi, dan pertahanan, kita akan terus menjadi penonton di pinggir sejarah, sementara saudara-saudara kita terus menjadi korban dari sistem global yang tidak adil. Ramadan seharusnya mengembalikan kesadaran kolektif kita bahwa kita adalah satu umat yang kuat bukan hanya karena jumlahnya, melainkan karena kesatuan visi peradaban yang kita miliki.
Allāhu akbar, Allāhu akbar, walillāhil-ḥamd.
Apa yang dapat kita lakukan? Apa peran setiap individu muslim untuk mengubah keadaan? Di tengah kepungan krisis global dan kerapuhan persatuan yang kita saksikan, langkah pertama dan yang paling mendasar untuk melakukan perubahan bukanlah dengan sekadar meratapi keadaan, melainkan dengan kembali membangun fondasi utama peradaban: yakni menjadi dan menciptakan manusia Muslim yang unggul.
Kita harus menyadari bahwa peradaban tidak pernah dibangun di atas pasir yang rapuh, melainkan di atas kualitas individu-individu yang memiliki keteguhan iman sekaligus keunggulan intelektual. Inilah kunci untuk mengubah nasib umat dari objek sejarah menjadi subjek yang menentukan arah zaman.
Membangun manusia unggul dimulai dengan mengintegrasikan kembali kesalehan ritual dengan kesalehan sosial dan profesional. Kita memerlukan pribadi yang dahi-Nya sujud di atas sajadah, sadar akan perannya sebagai budak Allah, pada saat yang sama juga pikirannya mampu menaklukkan sains dan teknologi.
Secara empirik, sejarah mencatat bahwa kebangkitan sebuah bangsa selalu dimulai dari investasi besar-besaran pada kualitas manusianya, atau yang dalam ekonomi modern disebut sebagai Human Capital.
Baca Juga
Data menunjukkan bahwa negara-negara yang mampu bangkit dari reruntuhan pasca-perang, seperti Jepang atau Korea Selatan, melakukannya bukan karena mereka memiliki kekayaan alam yang melimpah, melainkan karena mereka memiliki manusia yang memiliki disiplin tinggi, integritas, dan penguasaan ilmu pengetahuan yang mumpuni.
Bagi kita umat Islam, modal utama ini sebenarnya sudah tersimpan dalam kurikulum Ramadan yang baru saja kita lalui. Manusia unggul yang kita dambakan adalah mereka yang memiliki kemampuan regulasi diri yang luar biasa; mereka yang mampu berkata “tidak” pada kecurangan meskipun tidak ada yang melihat, dan berkata “ya” pada kejujuran meskipun itu pahit.
Inilah kekuatan akhlak yang menjadi mata uang paling berharga dalam membangun peradaban yang berwibawa. Tanpa akhlak individu, bantuan materi dan dukungan politik sebesar apa pun hanya akan menguap dalam lubang korupsi dan inefisiensi.
Lebih jauh lagi, manusia Muslim yang unggul haruslah menjadi pembelajar yang gigih. Kita diperintahkan untuk menjadi umat Iqra’, umat yang membaca realitas dengan kacamata ilmu. Keunggulan kita di masa depan sangat bergantung pada sejauh mana kita mampu menutup celah ketertinggalan literasi dan riset.
Kehebatan peradaban Islam di masa lalu, dari Baghdad hingga Andalusia, bukanlah kebetulan sejarah, melainkan hasil dari sebuah sistem pendidikan yang melahirkan manusia-manusia multidisiplin—yang hafal Al-Qur’an sekaligus menguasai astronomi, yang ahli fiqih sekaligus pionir dalam ilmu kedokteran.