Birrul Walidain di Karangtalun: Merawat Bakti, Menolak Lupa

fin.co.id - 15/03/2026, 06:22 WIB

Birrul Walidain di Karangtalun: Merawat Bakti, Menolak Lupa

Tradisi nyadran di Karangtalun, Ngluwar, Magelang, Jawa Tengah.Foto:IST

Sore itu di Kecamatan Ngluwar, Magelang, langit mulai berubah warna. Bau tanah yang basah sehabis hujan masih terasa di udara. Dusun Karangtalun, yang posisinya tepat berbatasan dengan Seyegan, Sleman, sedang bersiap menyambut tradisi tahunan. Bagi mereka, Ramadan bukan sekadar urusan menahan lapar, tapi juga soal mengingat kembali akar: orang tua dan para leluhur.

Di tengah kesibukan warga, Fatma tampak sibuk memastikan acara berjalan lancar. Sebagai panitia, matanya tak lepas memantau situasi di area pemakaman. Namun, ada satu pemandangan yang membuatnya tersenyum lega. Di sana, di antara deretan nisan, anak-anak muda dusun sedang sibuk. Ada yang memegang sapu lidi, ada yang mengayunkan cangkul.

"Zaman memang sudah modern, gadget ada di mana-mana, tapi kalau sudah waktunya birrul walidain, anak-anak muda di sini bisa meletakkan dunianya sejenak," ujar Fatma pelan sambil memperhatikan suasana makam yang mulai bersih.

Menjaga Ritme Desa di Era Digital

Karangtalun memang unik. Meski letaknya tak jauh dari keramaian Yogyakarta, warga di sini tetap memegang teguh cara hidup mereka. Saat dunia luar bergerak cepat mengikuti tren media sosial, warga desa ini justru memilih untuk "melambat" setiap kali Ramadan mendekat.

Nyadran bagi warga Karangtalun adalah bentuk nyata dari birrul walidain—sebuah bakti kepada orang tua yang tidak terputus meski maut memisahkan. Kegiatannya dimulai dengan hal yang sangat fisik: membersihkan tempat peristirahatan terakhir keluarga.

Sore itu, pemakaman desa berubah menjadi tempat gotong royong. Tidak ada instruksi formal dari pengeras suara, warga datang sendiri-sendiri membawa peralatan. Ada bapak-bapak yang memperbaiki nisan, ibu-ibu yang menyapu daun kering, sampai anak-anak kecil yang ikut menabur bunga.

Kehadiran anak muda di sini bukan pemandangan yang dipaksakan. Di saat banyak orang khawatir generasi sekarang lupa budaya, remaja di Karangtalun justru menganggap ini hal biasa.

"Mereka tidak merasa terbebani. Mereka tahu di bawah tanah ini ada kakek atau nenek yang dulu menyayangi mereka. Bersihkan makam itu cara mereka bilang kalau mereka tidak pernah lupa," tambah Fatma.

Doa di Tengah Keheningan Malam

Begitu malam jatuh setelah salat Isya, suasana Dusun Karangtalun berubah menjadi sangat tenang. Warga kembali ke makam, tapi kali ini bukan membawa cangkul, melainkan membawa doa.

Tradisi nyekar bersama di malam hari ini punya suasana tersendiri. Lampu senter dari ponsel—yang biasanya dipakai untuk main game—kini jadi penerang untuk membaca Surat Yasin. Di bawah temaram lampu senter dan cahaya bulan, doa-doa dipanjatkan. Suara tahlil dan istighatsah terdengar bersahut-sahutan di tengah keheningan Ngluwar.

Fatma bercerita, momen ini sering kali jadi waktu yang emosional. Ada kerinduan yang dalam setiap kali doa diucapkan. Mereka teringat sebuah hadis yang menyebut bahwa orang yang sudah wafat sangat menunggu kiriman doa dari keluarganya yang masih hidup.

Bagi mereka, doa adalah satu-satunya "jembatan" yang masih tersisa untuk berbakti kepada orang tua yang sudah mendahului.

Hangatnya Sajian Apem dan Kebersamaan

Lina
Lina
Penulis

Penulis FIN.CO.ID