“Jika kita terlalu kaku mempertahankan pakem lama tentang cara membaca puisi, bisa jadi kita sebenarnya sedang berbicara sendiri di ruang kosong,” katanya.
Bagi Monica, relevansi sastra terletak pada kemampuan untuk membedakan antara inti pesan kemanusiaan dan cara penyampaiannya. Pesan puisi akan selalu hidup, tetapi cara menyampaikannya harus mampu mengikuti bahasa zaman.
Semangat inilah yang melatarbelakangi penyelenggaraan Lomba Teater Puisi Esai 2025, sebuah inisiatif Denny JA bersama Universitas Kristen Indonesia dan Connection Production yang ditujukan bagi pelajar SMP dan SMA.
Meskipun promosi acara tidak dilakukan secara besar-besaran dan peserta dikenakan biaya pendaftaran, jumlah pendaftar justru cukup tinggi. Fenomena ini menunjukkan bahwa minat generasi muda terhadap sastra sebenarnya tidak hilang.
Evolusi ini kemudian berlanjut pada Festival Puisi Esai ke-3 tahun 2025 yang diselenggarakan secara daring. Dalam festival tersebut, Monica mengoordinasikan Lomba Membaca Puisi Esai dengan tema “Kembali Mencintai Bumi Setelah Sumatra Menangis.”
Tema yang mengangkat isu lingkungan ini menuntut pendekatan kreatif dari para peserta. Mereka diminta membuat video pembacaan puisi esai dengan kualitas audio visual yang baik. Beberapa bahkan mencoba memanfaatkan teknologi digital dan AI untuk memperkuat presentasi karya mereka.
Hasilnya melampaui ekspektasi panitia. Sebanyak 575 video terkumpul dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Bandung, Jakarta, Banjar, hingga Medan.
“Bagi saya, angka itu bukan sekadar statistik,” kata Monica.
“Itu adalah tanda bahwa sastra belum ditinggalkan generasi muda.”
Festival ini juga menunjukkan bahwa format video digital ternyata menjadi medium yang lebih dekat dengan generasi Gen Z dan Gen Alpha. Dalam format tersebut, puisi tidak hanya dibacakan, tetapi juga dipadukan dengan visual, musik, dan pendekatan sinematik.
Baca Juga
Pada akhirnya, Monica percaya bahwa masa depan puisi tidak ditentukan oleh bentuk lama yang dipertahankan tanpa perubahan, melainkan oleh keberanian untuk menjawab kegelisahan manusia hari ini.
Pesan kemanusiaan dalam puisi akan selalu hidup. Tugas kita hanyalah memastikan pesan itu sampai kepada generasi yang baru.
Puisi tidak mati.
Yang usang hanyalah cara kita membacanya.
Video pemenang Lomba Membaca Puisi Esai (Festival Puisi Esai 2025) dapat ditonton melalui playlist berikut: