Ragam . 14/03/2026, 16:01 WIB

Puisi Tidak Mati, Yang Usang Hanya Cara Membacanya

Penulis : Sahroni
Editor : Sahroni

Oleh: Monica JR

Koordinator Lomba Membaca Puisi Esai 2025

Ketika orang mendengar istilah lomba membaca puisi, banyak yang langsung membayangkan sebuah panggung kecil dengan gaya deklamasi klasik: suara yang naik turun dramatis, gerak tangan yang penuh tekanan, serta ritme yang mengikuti pakem pembacaan puisi yang diajarkan di sekolah sejak lama.

Namun bagi Monica JR, Koordinator Lomba Membaca Puisi Esai 2025, gambaran itu justru menjadi titik awal sebuah pertanyaan: apakah pembacaan puisi memang harus selalu seperti itu?

Ingatan Monica kembali ke masa kecilnya di Bekasi puluhan tahun lalu. Saat itu ia mengikuti lomba deklamasi tingkat sekolah dasar dan berhasil meraih posisi runner-up. Hampir semua peserta tampil dengan gaya yang seragam, mengikuti pola pembacaan puisi yang sudah diwariskan dari generasi ke generasi.

“Waktu itu saya mulai berpikir, apakah memang puisi harus selalu dibacakan dengan format yang sama,” kenangnya.

Pertanyaan itu menemukan jawabannya bertahun-tahun kemudian ketika ia mengenal puisi esai pada tahun 2012. Bentuk sastra ini merupakan gagasan Denny JA, yang pertama kali diperkenalkan melalui buku Atas Nama Cinta: Kisah-Kisah Diskriminasi.

Puisi esai menggabungkan puisi dengan narasi berbasis fakta sosial serta dilengkapi catatan kaki yang memberikan konteks sejarah atau data. Dengan format ini, puisi tidak hanya menjadi ekspresi estetika, tetapi juga ruang refleksi atas isu-isu nyata di masyarakat.

Sejak diperkenalkan, puisi esai berkembang menjadi sebuah gerakan sastra yang mencoba menjembatani dunia puisi dengan persoalan kemanusiaan kontemporer.

Bagi Monica, bentuk sastra ini membuka kemungkinan baru bagi dunia puisi.

“Puisi tidak lagi terasa kaku. Ia bisa menjadi pertunjukan yang hidup,” ujarnya.

Beberapa tokoh seni pernah membawa puisi esai ke panggung dengan pendekatan yang lebih teatrikal. Nama-nama seperti Niniek L. Karim, Sujiwo Tedjo, hingga Fatin Hamama R. Syam pernah membawakan puisi esai dengan memadukan pembacaan puisi, ekspresi dramatik, dan elemen pertunjukan.

Monica sendiri pernah terlibat dalam monolog Sapu Tangan Fang Yin bersama Olivia Zalianty yang menggabungkan pembacaan puisi dengan gerak dan tari.

Pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa sastra harus terus menemukan cara baru untuk berbicara kepada zamannya.

Ia teringat sebuah kritik yang sering dikutip dalam konteks institusi spiritual: dunia sering merasa tidak puas dengan gereja karena gereja terlalu sibuk menjawab pertanyaan yang sebenarnya tidak pernah ditanyakan siapa pun.

Menurut Monica, kritik itu juga relevan bagi dunia seni.

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id