Internasional . 09/03/2026, 09:00 WIB

Harga Energi Melonjak, Dunia Bersiap Hadapi Gelombang Inflasi Baru

Penulis : Makruf
Editor : Makruf

fin.co.id - Lonjakan harga energi kembali memicu kekhawatiran global setelah ketegangan geopolitik di kawasan Teluk Persia mengganggu jalur perdagangan energi internasional. Salah satu titik paling krusial adalah Selat Hormuz, jalur laut yang selama ini menjadi arteri utama pengiriman minyak dan gas dunia.

Selat sempit ini memiliki peran vital dalam sistem energi global. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur tersebut setiap hari. Ketika keamanan pelayaran terganggu, dampaknya segera terasa di pasar energi internasional.

Awalnya, pasar hanya merespons dengan kenaikan harga minyak sekitar 10 persen. Namun dalam hitungan hari, tekanan mulai meningkat. Banyak kapal tanker memilih menunda perjalanan karena biaya asuransi melonjak tajam dan kekhawatiran keselamatan awak kapal meningkat.

Situasi tersebut membuat arus distribusi energi tidak berjalan normal. Walaupun tidak ada penutupan resmi jalur laut, kondisi di lapangan membuat aktivitas perdagangan energi secara de facto menjadi terbatas.

Harga Minyak Mendekati Ambang Psikologis

Lonjakan harga energi terjadi sangat cepat. Dalam proyeksi awal pekan, harga minyak mentah masih diperkirakan berada di kisaran 63 dolar per barel. Namun pada akhir pekan, harga tersebut melonjak hingga sekitar 94 dolar.

Perubahan drastis ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar energi terhadap gangguan geopolitik. Banyak analis pasar mulai memperkirakan harga minyak dapat menembus angka 100 dolar jika ketegangan terus meningkat.

Kenaikan juga terjadi pada harga gas alam. Di Inggris, harga gas yang sebelumnya diperkirakan sekitar 74 pence per therm melonjak hingga lebih dari 1,30 pound, bahkan sempat mendekati 1,70 pound pada puncaknya.

Perubahan harga yang tajam tersebut memberikan tekanan langsung pada biaya produksi industri dan konsumsi rumah tangga. Energi merupakan komponen utama dalam hampir seluruh aktivitas ekonomi modern, mulai dari transportasi hingga manufaktur.

Efek Domino ke Industri dan Harga Pangan

Lonjakan harga energi tidak hanya berdampak pada sektor bahan bakar. Berbagai produk turunan petrokimia juga ikut terdorong naik.

Bahan penting seperti bahan bakar pesawat, pupuk berbasis urea, serta berbagai bahan kimia industri mulai mengalami kenaikan harga. Produk-produk ini merupakan komponen penting dalam rantai pasokan global.

Ketika harga pupuk meningkat, biaya produksi pertanian ikut naik. Dampaknya dapat merambat hingga harga pangan di pasar global. Proses ini sering disebut sebagai efek domino inflasi energi.

Dalam konteks ekonomi modern yang saling terhubung, gangguan pada satu sektor dapat dengan cepat menyebar ke sektor lain. Karena itu, kenaikan harga energi sering menjadi pemicu awal gelombang inflasi yang lebih luas.

Bank Sentral Mulai Menghitung Risiko Inflasi

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id