National Institute of Economic and Social Research memperingatkan bahwa tekanan energi berkepanjangan dapat mendorong Bank of England menaikkan suku bunga kembali di atas empat persen. Sebelumnya pasar memperkirakan akan ada dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini seiring melandainya inflasi.
Lindsay James dari Quilter menyebut pasar sempat mengambil pandangan yang terlalu optimistis. Ia menegaskan bahwa pembukaan kembali pasokan energi secara normal hampir mustahil tanpa kesepakatan damai. “Solusinya adalah perjanjian damai, dan rasanya kita masih cukup jauh dari situ,” ujarnya kepada BBC.
Di sisi lain, Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menyatakan bahwa pasar minyak mentah saat ini “sangat tercukupi”. Namun pernyataan tersebut belum sepenuhnya menenangkan pelaku pasar yang masih mencermati risiko eskalasi lebih lanjut.
Ketergantungan Energi dan Dampak Global
Krisis ini kembali menunjukkan betapa besar ketergantungan ekonomi global terhadap stabilitas kawasan Teluk. Ketika jalur energi utama terganggu, efeknya langsung terasa pada harga bahan bakar, biaya logistik, harga pangan, hingga kebijakan moneter.
Asia menghadapi risiko paling nyata karena sebagian besar LNG dari Qatar mengalir ke kawasan tersebut. Analis yang dikutip Reuters menyebut konsumen Asia kini harus membayar lebih mahal untuk mendapatkan pasokan alternatif, yang pada akhirnya memberi dampak berantai ke pasar energi global, termasuk Inggris dan Eropa.
Selama belum ada kepastian diplomatik, volatilitas kemungkinan akan terus mendominasi pasar. Investor global kini menghadapi kombinasi risiko geopolitik, tekanan harga energi, serta ketidakpastian arah kebijakan bank sentral.
Referensi
BBC News – Stock markets and oil prices still volatile over fears Iran war may drag on
Reuters – Oil settles at highest in over a year as Iran crisis escalates
Reuters – Wall Street ends volatile after air strikes on Iran