Perang Iran Seret Pasar Global, Harga Minyak dan Gas Masih Bergejolak

fin.co.id - 05/03/2026, 07:58 WIB

Perang Iran Seret Pasar Global, Harga Minyak dan Gas Masih Bergejolak

Ilustrasi Harga Minyak, Image: DALL·E 3

fin.co.id - Konflik militer antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel terus mengguncang pasar global. Ketidakpastian mengenai durasi perang serta potensi gangguan pasokan energi membuat investor bergerak hati-hati. Bursa saham bergerak tidak seragam, sementara harga minyak dan gas bertahan di level tinggi yang memicu kekhawatiran inflasi baru.

Dalam beberapa hari terakhir, pasar keuangan menunjukkan pola yang kontras. Indeks utama di Inggris dan Amerika Serikat mulai stabil setelah sempat terkoreksi tajam. Namun banyak pasar Asia masih berada dalam tekanan besar akibat ketergantungan tinggi pada impor energi dari Timur Tengah.

Bursa Global Terbelah, Asia Tertekan

Indeks FTSE 100 di London serta sejumlah indeks utama Wall Street sempat menguat setelah dua hari pelemahan. Tetapi di Asia, tekanan jual masih mendominasi. Bursa Korea Selatan dan Thailand bahkan sempat menghentikan perdagangan sementara setelah penurunan tajam memicu circuit breaker.

Reuters melaporkan bahwa pasar saham Asia menjadi yang paling terpukul karena kawasan ini mengimpor sebagian besar kebutuhan energinya dari Teluk Persia. Ketika risiko gangguan pasokan meningkat, investor bereaksi cepat dengan melepas aset berisiko.

Wall Street sendiri bergerak volatil. Perdagangan berlangsung fluktuatif setelah serangan udara terhadap Iran memperbesar ketidakpastian geopolitik. Investor cenderung berpindah ke aset yang dianggap lebih aman, sementara saham sektor energi justru mendapat dorongan dari kenaikan harga komoditas.

Selat Hormuz dan Gangguan Jalur Energi Dunia

Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global biasanya melewati Selat Hormuz. Jalur sempit antara Iran dan Uni Emirat Arab ini menjadi nadi utama perdagangan energi dunia. Namun ancaman terhadap kapal yang melintas membuat lalu lintas hampir sepenuhnya terhenti.

Harga minyak Brent melonjak sekitar 12 persen sejak serangan dimulai. Reuters mencatat harga minyak sempat menyentuh level tertinggi dalam lebih dari satu tahun karena kekhawatiran terganggunya arus energi dari kawasan tersebut.

Harga gas juga mengalami lonjakan tajam. BBC melaporkan harga gas acuan Inggris naik lebih dari 60 persen sejak konflik pecah. Pada akhir perdagangan terbaru, harga ditutup di 128 pence per therm, masih jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum perang dimulai.

Data Bloomberg yang dikutip dalam laporan BBC menunjukkan lonjakan harga gas kali ini signifikan, meskipun belum sebesar lonjakan saat invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 yang mendorong harga ke rekor tertinggi.

Sekitar 200 kapal tanker dilaporkan tertahan, menurut Lloyd’s List Intelligence. Premi asuransi kapal meningkat drastis, khususnya bagi kapal yang diasosiasikan dengan Amerika Serikat, Inggris, atau Israel. Gangguan ini memperkuat tekanan terhadap rantai pasokan energi global.

Risiko Inflasi dan Kebijakan Suku Bunga

Kenaikan harga energi membawa konsekuensi langsung terhadap inflasi. David Miles dari Office for Budget Responsibility mengatakan bahwa jika harga energi tetap tinggi dalam periode yang cukup lama, tingkat inflasi Inggris kemungkinan meningkat. Ia memperkirakan dampaknya terhadap tingkat harga bisa mencapai sekitar satu persen jika kondisi saat ini bertahan.

Makruf
Makruf
Penulis

Penulis FIN.CO.ID