fin.co.id – Indonesia berduka. Bangsa ini baru saja kehilangan salah satu putra terbaiknya, Wakil Presiden ke-6 RI, Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno. Beliau mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto pada Senin pagi, 2 Maret 2026, pukul 06.58 WIB.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengonfirmasi kabar duka tersebut. Ia mengenang almarhum sebagai sosok pahlawan bangsa yang menjadi panutan lintas generasi.
"Selamat jalan pahlawan bangsa. Kita akan selalu mengenang seluruh teladan dan jasa baik beliau," ujar Kapolri saat memberikan penghormatan terakhirnya.
Di balik seragam jenderal dan jabatan tinggi yang pernah ia emban, tersimpan sebuah kisah hidup yang luar biasa inspiratif. Lahir di Surabaya pada 15 November 1935, Try Sutrisno kecil tumbuh dalam keterbatasan ekonomi sebagai putra seorang sopir ambulans.
Lika-Liku Masa Kecil: Berjualan Koran hingga Menjadi Kurir Gerilya
Masa kecil Try Sutrisno jauh dari kemewahan. Saat agresi militer Belanda berkecamuk, keluarganya terpaksa mengungsi dari Surabaya ke Mojokerto. Kondisi ekonomi yang sulit memaksa Try berhenti sekolah demi membantu orang tua. Ia pun melakoni berbagai pekerjaan keras, mulai dari menjual air bersih menggunakan kendi, hingga menjadi asongan koran dan rokok di gerbong-gerbong kereta api.
"Saya entrepreneurship tanpa modal waktu itu," kenang Try Sutrisno dalam sebuah kesempatan. Ketangguhan mentalnya mulai terbentuk sejak usia 13 tahun, saat ia memutuskan untuk ikut berjuang melawan penjajah. Meskipun usianya masih sangat belia, ia dipercaya oleh Batalyon Poncowati untuk menjadi kurir rahasia dan penyelidik.
Tugas yang ia jalankan pun tidak main-main. Try kecil sering kali harus menyusuri pematang sawah dan menghindari jalan besar demi mengantar dokumen rahasia agar tidak tertangkap patroli Belanda. Pengalaman bertahan hidup dan kecerdikannya dalam berjuang inilah yang kelak membentuk karakter kepemimpinannya di militer.
Pengabdian Terakhir Sang Negarawan
Setelah melewati perjalanan panjang dari seorang "pesuruh" batalyon yang membersihkan sepatu tentara hingga menjadi Panglima ABRI dan Wakil Presiden RI, Try Sutrisno tetap dikenal sebagai pribadi yang rendah hati. Hingga akhir hayatnya pada usia 90 tahun, ia tetap menjadi sosok yang dihormati karena kesederhanaan hidupnya.
Almarhum mengembuskan napas terakhir di Ruang CICU RSPAD Gatot Soebroto setelah mengalami penurunan kondisi kesehatan. Meski kini raganya telah tiada, kisah perjuangan sang penjual koran yang berhasil mencapai puncak kursi kepemimpinan negara akan tetap abadi sebagai inspirasi bagi generasi muda Indonesia.