Jelang Lebaran 2026, Mentan Amran Pastikan Kebutuhan Pokok di tingkat Nasional dan Daerah Aman dan Surplus

fin.co.id - 02/03/2026, 12:58 WIB

Jelang Lebaran 2026, Mentan Amran Pastikan Kebutuhan Pokok di tingkat Nasional dan Daerah Aman dan Surplus

Stok pangan jelang Idulfitri 2026 dipastikan aman dan surplus. Andi Amran Sulaiman dan Pramono Anung menegaskan pasokan kuat serta harga tetap stabil.

Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah ini menunjukkan kesiapan menyambut Idulfitri 2026 dengan kondisi pasokan yang kuat, distribusi yang terjaga, serta harga yang tetap stabil. Pemerintah optimistis momentum Ramadan dan Lebaran tahun ini dapat dilalui dengan tenang, tanpa gejolak pasokan maupun lonjakan harga yang meresahkan masyarakat.

Kementan Pastikan Pasokan Cabai Aman Selama Ramadan dan Jelang Idulfitri, Blitar dan Kediri Surplus

Kementerian Pertanian memastikan pasokan aneka cabai nasional dalam kondisi aman selama Ramadan hingga menjelang Idulfitri 1447 Hijriah, dengan dukungan surplus produksi dari sentra utama di Kabupaten Blitar dan Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur.

Kepastian tersebut ditegaskan dalam kunjungan kerja Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Muh Agung Sunusi, ke sentra produksi cabai di kedua daerah tersebut, Senin, 2 Maret 2026.

Berdasarkan data Early Warning System (EWS) periode Maret–April 2026, Kabupaten Blitar menunjukkan neraca produksi yang sangat positif. Untuk komoditas cabai rawit merah, produksi Maret 2026 diperkirakan mencapai 7.050 ton dengan neraca surplus sebesar 5.594 ton. Kondisi ini selaras dengan fakta lapangan di tiga kecamatan sentra, yaitu Bangunrejo, Wates, dan Binangun, serta tujuh kecamatan lainnya dengan total luas tanam (LT) sekitar 6.000 hektare. Potensi panen awal diperkirakan mencapai 2.000 hektare pada minggu kedua Maret.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Blitar, Setiyana, menyampaikan bahwa panen telah dimulai dan akan semakin intens menjelang Idul Fitri, meski diakui terjadi penurunan produktivitas akibat cuaca ekstrem.

“LT di blitar dari dulu sama saja sekitar 6 ribuan, namun di tahun ini kondisinya kurang maksimal karena faktor alam. Di blitar, selain serangan virus gemini, cabe rusak karena anthraknosa dan lalat buah ditambah wabah tikus” terangnya

Hal senada disampaikan anggota DPRD Blitar, Sarwi Riyanto, yang mengingatkan bahwa luas tanam Blitar tergolong besar, namun kendala utama saat ini adalah penurunan produktivitas, dari sebelumnya 0,4–0,5 kg per tanaman menjadi 0,2–0,3 kg.

“Selain kendala cuaca, penggunaan benih yang tidak bagus serta minimnya pengairan karena tadah hujan menyebabkan produksi tidak maksimal di Blitar”. Terang Arwi, panggilan akrabnya.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Muh. Agung Sunusi, menyampaikan bahwa Blitar sejak tahun 2017 terus menjadi penyangga cabai rawit nasional. “Meskipun blitar sempat masuk ke dalam list IPH tertinggi nomer dua, namun melihat pertanaman dan kesiapan panen dalam 2 minggu ke depan, saya optimis Blitar mampu segera mengisi kebutuhan cabai sampai hari raya Idul Fitri nanti” ujar Agung.

Agung juga menyarankan agar petani menggunakan benih sehat dan tidak terpaku pada varietas lokal, memperkuat penggunaan dolomit dan pupuk kandang, serta KNO3 untuk memaksimalkan pembungaan.

“Perbaikan budidaya perlu dilakukan untuk hasil produksi yang lebih kuat dan sehat” seraya mengingatkan untuk segera melakukan Gerakan Pengendalian OPT.

Sementara itu, di Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri, kondisi produksi cabai rawit merah juga terpantau aman dan surplus. Produksi Maret 2026 mencapai 11.166 ton dengan surplus sebesar 9.195 ton. Luas panen diperkirakan mencapai 3.100 hektare pada Maret.

Ketua APCI Kediri, Suyono, menyampaikan bahwa saat ini panen telah berlangsung sekitar 20–30 persen dari total 3.100 hektare. “Potensi panen awal cabai rawit di Kediri sekitar 900 an hektar dan terus bertambah sampai dengan panen raya di bulan Mei. Kendala terbesar saat ini ya cuaca ekstrim di seluruh Indonesia Raya” terang yono.

Dalam kesempatan tersebut, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Agung Sunusi, kembali mengingatkan pentingnya peningkatan kewaspadaan terhadap potensi serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) seperti antraknosa, patek, trips, dan lalat buah, terutama pada kondisi kelembapan tinggi. Selain itu, Agung meminta agar Gerakan Pengendalian OPT (GerDal OPT) diperkuat bersama Dinas dan BPTPH provinsi.

AdminFIN
AdminFIN
Penulis

Penulis FIN.CO.ID