Antara Ngabuburit dan Berburu Takjil: Merawat Waktu, Menghangatkan Kebersamaan

fin.co.id - 01/03/2026, 16:07 WIB

Antara Ngabuburit dan Berburu Takjil: Merawat Waktu, Menghangatkan Kebersamaan

Gorengan dan lontong. Foto: Dok/fin.co.id

fin.co.id - Ramadan 1447 Hijriah kembali menyapa dengan suasana yang khas. Sejak awal puasa ditetapkan pada 19 Februari 2026 oleh Kementerian Agama, umat Muslim di Indonesia memulai perjalanan spiritual selama sebulan penuh. Sementara itu, Muhammadiyah lebih dahulu menetapkan 18 Februari sebagai awal Ramadan. Perbedaan itu bukanlah jurang pemisah, melainkan dinamika yang telah lama menjadi warna dalam keberagaman. Pada akhirnya, tujuan yang hendak diraih tetap sama, menggapai ketakwaan (la’allakum tattaquun).

Sepuluh hari pertama Ramadan biasanya menghadirkan semangat yang masih utuh. Masjid lebih ramai, tadarus menggema selepas salat, dan jalanan menjelang senja dipenuhi wajah-wajah yang menanti waktu berbuka. Di antara banyak tradisi yang terus bertahan dari generasi ke generasi, ada dua kebiasaan yang terasa begitu akrab yakni ngabuburit dan berburu takjil.

Antara Ngabuburit dan Berburu Takjil: Merawat Waktu, Menghangatkan Kebersamaan

Ngabuburit berasal dari bahasa Sunda, “burit”, yang berarti sore hari menjelang malam. Namun maknanya kini melampaui batas geografis. Di banyak kota dan desa, ngabuburit telah menjadi istilah bersama untuk menyebut aktivitas mengisi waktu sebelum azan Maghrib berkumandang.

Ada yang memanfaatkannya untuk duduk tenang di sudut masjid, melantunkan ayat suci Al-Qur’an, atau mengikuti kajian singkat. Ada pula yang memilih berjalan santai bersama keluarga, menikmati langit yang perlahan berubah warna.

Di sisi lain, berburu takjil menjadi bagian yang tak terpisahkan dari denyut Ramadan. Pasar dadakan bermunculan, gerobak kecil berjajar rapi, dan aroma kolak, gorengan, serta aneka minuman manis menggoda siapa saja yang melintas. Anak-anak kecil menggenggam uang receh pemberian orang tua, remaja bercanda sambil memilih jajanan favorit, sementara para orang tua dengan sabar menunggu giliran membeli.

Namun lebih dari sekadar membeli makanan, berburu takjil menyimpan cerita tentang perputaran ekonomi rakyat kecil. Pedagang musiman yang setahun sekali membuka lapak, ibu rumah tangga yang mencoba menambah penghasilan dengan menjual kue buatan sendiri, hingga pemuda yang membantu orang tuanya menjaga dagangan, semuanya menjadi bagian dari ekosistem kebaikan Ramadan. Di sana ada harapan sederhana: dagangan habis sebelum azan Maghrib, rezeki cukup untuk kebutuhan esok hari.

Antara ngabuburit dan berburu takjil, terselip pelajaran tentang bagaimana manusia memaknai waktu. Ada yang memilih mengisinya dengan keheningan dan doa, ada yang menjemputnya dengan langkah kaki menyusuri deretan penjual makanan. Keduanya bukan hal yang saling bertentangan. Justru di situlah indahnya Ramadan, ruang spiritual yang lentur, memberi tempat bagi perenungan sekaligus kebersamaan.

Antara Ngabuburit dan Berburu Takjil: Merawat Waktu, Menghangatkan Kebersamaan

Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan mengelola diri, merawat empati, dan memperkuat ikatan sosial. Saat seseorang membeli takjil, ia bukan hanya menyiapkan menu berbuka, tetapi juga turut menggerakkan roda kehidupan orang lain. Saat seseorang memilih duduk membaca Al-Qur’an di waktu senja, ia sedang merawat jiwanya agar tetap jernih di tengah hiruk-pikuk dunia.

Pada akhirnya, senja Ramadan selalu membawa suasana yang sama: hening sesaat sebelum azan, lalu senyum yang merekah ketika doa berbuka dipanjatkan. Di meja makan yang sederhana atau di ruang keluarga yang hangat, setiap orang merasakan nikmat yang mungkin tak selalu disadari pada hari-hari biasa.

Ngabuburit mengajarkan kita untuk bersabar menanti waktu. Berburu takjil mengingatkan bahwa kebahagiaan sering kali hadir dalam bentuk yang sederhana. Dan di antara keduanya, ada nilai kebersamaan yang tak tergantikan, tentang keluarga, tentang tetangga, tentang masyarakat yang saling menguatkan.

Antara Ngabuburit dan Berburu Takjil: Merawat Waktu, Menghangatkan Kebersamaan

Ramadan akan terus berganti tahun, metode penetapan awal bulan mungkin berbeda, tetapi semangatnya tetap satu, memperbaiki diri, dan memperluas kepedulian. Di setiap langkah menuju senja, kita belajar bahwa waktu yang diisi dengan niat baik, sekecil apa pun, akan selalu bernilai ibadah.*

Mihardi
Mihardi
Penulis

Redaktur FIN.CO.ID