Inggris Tanggapi Tarif 15 Persen AS, Tegaskan Tak Ingin Perang Dagang

fin.co.id - 24/02/2026, 09:36 WIB

Inggris Tanggapi Tarif 15 Persen AS, Tegaskan Tak Ingin Perang Dagang

Tarif Impor, Image: DALL·E 3

fin.co.id - Pemerintah Inggris menegaskan bahwa semua opsi masih terbuka dalam menyikapi kebijakan tarif global 15 persen yang diumumkan Amerika Serikat. Meski demikian, London menekankan bahwa mereka tidak menginginkan perang dagang dan akan tetap mengutamakan dialog serta negosiasi dengan Washington untuk menjaga stabilitas hubungan ekonomi kedua negara.

Juru bicara resmi Perdana Menteri menyatakan pendekatan Inggris terhadap Washington tetap bersifat pragmatis. Pemerintah mengakui situasi masih berkembang dan pembicaraan dengan pejabat AS terus berlangsung di berbagai level.

Dampak Putusan Mahkamah Agung AS terhadap Kebijakan Tarif

Ketidakpastian ini bermula setelah Mahkamah Agung Amerika Serikat membatalkan sebagian besar tarif global yang sebelumnya diumumkan Presiden Donald Trump berdasarkan Undang-Undang Kekuasaan Ekonomi Darurat Internasional 1977. Pengadilan menilai presiden telah melampaui kewenangannya dalam menerapkan tarif luas menggunakan dasar hukum tersebut.

Sebagai respons, pemerintah AS memperkenalkan tarif global 15 persen menggunakan dasar hukum berbeda, yakni Section 122 dari Trade Act 1974. Kebijakan ini bersifat sementara dan dapat berlaku hingga 150 hari tanpa persetujuan Kongres.

Langkah tersebut memicu kebingungan di antara mitra dagang, termasuk Inggris, yang sebelumnya telah mencapai kesepakatan sektoral dengan AS.

Kesepakatan Sektoral Inggris dan AS

Pemerintah Inggris menyebut sebagian besar perjanjian dagang bilateral, termasuk tarif khusus untuk sektor mobil, baja, aluminium, farmasi, dan kedirgantaraan, diperkirakan tidak berubah. Sektor-sektor ini mencakup porsi signifikan perdagangan Inggris ke Amerika Serikat.

Namun, sektor di luar perjanjian sektoral tersebut berpotensi terdampak tarif global 15 persen. Hal ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha yang mengandalkan akses pasar AS.

Menteri Bisnis dan Perdagangan Inggris, Peter Kyle, menyatakan dirinya telah menyampaikan kekhawatiran kepada mitra dagangnya di Washington. Ia menegaskan fokus utama pemerintah adalah melindungi bisnis dan masyarakat Inggris, serta memastikan kedua negara menghormati kesepakatan yang telah dicapai.

Kekhawatiran Dunia Usaha

Kamar Dagang Inggris memperingatkan bahwa jika tarif 15 persen diterapkan secara luas, posisi Inggris dalam persaingan perdagangan global bisa terdampak. Beberapa pelaku industri menilai negara-negara sekutu justru berpotensi menghadapi tekanan lebih besar dibanding mitra dagang dengan tarif yang sebelumnya lebih tinggi.

Asosiasi manufaktur Make UK juga menyampaikan bahwa para eksportir akan mencemaskan potensi gangguan tambahan terhadap barang yang masuk ke pasar Amerika. Kejelasan mengenai perlakuan terhadap ekspor Inggris dinilai sangat mendesak.

Sementara itu, perwakilan dagang AS menyatakan bahwa kesepakatan yang telah dicapai sebelumnya tetap berlaku dan tidak bergantung pada proses hukum terkait tarif darurat. Pemerintah AS menegaskan akan tetap berpegang pada perjanjian tersebut dan berharap mitra dagang melakukan hal yang sama.

Makruf
Makruf
Penulis

Penulis FIN.CO.ID