Ruang Cerita . 22/02/2026, 12:10 WIB
Oleh: Ari Nurcahyo
Pindah dari bulan biasa ke Ramadan seperti memasuki gerbang yang berbeda. Kamis lalu, 19 Februari 2026, warga NU sudah mulai berpuasa. Lapar dan haus ditahan. Tapi sebelum itu, ada satu tradisi yang tidak boleh lewat: Munggahan.
Bagi keluarga besar mendiang Haji Karna dan Ibu Oni, Munggahan adalah harga mati. Ini bukan sekadar makan-makan. Ini soal al-qadim al-shalih. Tradisi lama yang baik. Kata orang Sunda, Munggahan itu "naik". Naik derajat, naik kualitas diri.
Ibu saya, Nani Wijaya, anak kedua dari tujuh bersaudara, mengenang masa lalu dengan mata berbinar. Dulu pusatnya di Setiabudi, Jakarta Selatan. Tahun 2000-an pindah ke Karawaci, Tangerang.
"Dulu rumah di Karawaci tidak luas. Tapi rasa senangnya luar biasa," kenang Ibu. Kami tidur berderet di kasur lantai. Ramai. Berdesakan. Tapi kebersamaan itulah yang mahal. Sekarang, setelah kakek dan nenek tiada, tongkat estafet pindah ke anak tertua: Wak Elly Haeriah.
Sistemnya gotong royong. Tidak ada tamu di rumah ini. Semua kerja. Yang tua "patungan" uang dan tenaga untuk menu utama. Yang muda bagian logistik: snack, buah, dan minuman segar.
Motor penggeraknya adalah tante saya nomor empat, Dasnawati. Kami memanggilnya "Mama Nana". Dialah yang berteriak paling kencang agar keluarga dari Bandung, Bogor, hingga Pondok Kelapa mau bergerak menempuh macet demi satu hari yang penuh makna.
Acara dimulai jam 10 pagi. Sebelum piring berdenting, doa melangit dulu. Ada Yasinan dan Tahlil untuk leluhur. Setelah itu? Barulah urusan perut.
Menunya tidak kaku. Tergantung request. Hari itu yang menang adalah Pecak. Ada ayam pecak, ada ikan pecak. Segar. Pedas. Nikmat.
Di tengah hiruk-pikuk itu, saat saya asyik menyantap mie goreng, Tante Nurjanah menghampiri. Beliau menatap saya dalam-dalam. Lalu keluar kalimat keramat: "Kayaknya kamu bakal nikah tahun depan, usia 30-an."
Saya tersedak. Antara senang dan bingung.
Tante Nurjanah memang punya insting tajam. Beliau pula yang dulu menerawang hubungan saya dengan si "A" tidak akan cocok. Benar saja, setelah dua tahun, hubungan itu kandas.
Sekarang, beliau meramal saya menikah di usia 30. Saya hanya bisa bilang: Alhamdulillah. Amin. Meski dalam hati saya bertanya-tanya: siapa calon istrinya? Pendampingnya saja belum ada.
Setelah kenyang dan kenyang oleh ramalan, acara ditutup dengan ziarah kubur. Kami mendatangi makam orang tua dan keluarga yang sudah mendahului. Berpamitan untuk masuk ke bulan suci.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id