Internasional . 20/02/2026, 11:24 WIB
fin.co.id - Misi uji coba wahana antariksa Starliner pada 2024 berubah menjadi salah satu insiden paling serius dalam sejarah modern NASA. Badan antariksa Amerika Serikat itu secara resmi mengklasifikasikan kegagalan tersebut sebagai “Type A mishap”, kategori tertinggi dalam sistem keselamatan internalnya. Penilaian ini menempatkan insiden Starliner pada tingkat yang sama dengan tragedi pesawat ulang-alik masa lalu, termasuk Space Shuttle Columbia dan Space Shuttle Challenger.
Klasifikasi “Type A” biasanya diberikan untuk insiden yang berpotensi menyebabkan kerusakan besar, hilangnya kendaraan, atau bahkan korban jiwa. Dalam kasus Starliner, memang tidak ada korban, tetapi NASA menilai potensi bahayanya sangat signifikan sehingga layak mendapat tingkat penilaian tertinggi.
Administrator NASA, Jared Isaacman, secara terbuka mengakui bahwa keputusan dan kepemimpinan dalam proyek tersebut tidak memenuhi standar keselamatan yang seharusnya. Ia menyatakan bahwa lembaganya harus bertanggung jawab penuh atas persetujuan dan peluncuran misi tersebut.
“Kami harus transparan terhadap keberhasilan maupun kegagalan. Kami harus mengakui kesalahan dan memastikan hal seperti ini tidak terulang,” tegasnya.
Awalnya, misi Starliner dirancang sebagai uji coba singkat, sekitar delapan hingga 14 hari. Wahana yang dibangun oleh Boeing itu membawa dua astronot NASA, Suni Williams dan Butch Wilmore, menuju International Space Station.
Namun, berbagai gangguan teknis dan kegagalan perangkat keras membuat wahana tersebut tidak dapat digunakan untuk perjalanan pulang sesuai rencana. Akibatnya, kedua astronot harus tinggal di stasiun luar angkasa selama lebih dari sembilan bulan sebelum akhirnya kembali ke Bumi menggunakan wahana lain pada Maret 2025.
Situasi ini memicu perhatian global dan menimbulkan pertanyaan serius tentang standar rekayasa, pengawasan teknis, serta proses pengambilan keputusan dalam kolaborasi antara lembaga pemerintah dan perusahaan swasta.
NASA kemudian membentuk tim investigasi independen yang menghasilkan laporan setebal 312 halaman. Laporan tersebut mengidentifikasi sejumlah masalah, mulai dari kegagalan perangkat keras hingga lemahnya pengawasan manajemen.
Investigasi juga menyoroti persoalan budaya organisasi dan kepemimpinan yang dinilai tidak cukup kritis dalam mengevaluasi risiko sebelum peluncuran. Meski Boeing membangun Starliner, NASA tetap mengakui perannya dalam menerima dan mengizinkan wahana tersebut terbang membawa awak manusia.
Dalam pernyataan resminya, NASA menegaskan bahwa meskipun tidak terjadi cedera dan kendali wahana sempat dipulihkan sebelum proses docking, klasifikasi tertinggi tetap diberikan karena adanya potensi bahaya besar.
Penyamaan tingkat insiden Starliner dengan tragedi Columbia dan Challenger bukan berarti dampaknya identik, tetapi menunjukkan standar kehati-hatian ekstrem yang diterapkan NASA. Kedua tragedi tersebut sebelumnya menjadi titik balik dalam sejarah eksplorasi luar angkasa Amerika Serikat, memicu reformasi besar dalam sistem keselamatan dan manajemen risiko.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id