Serba Serbi Ramadhan . 13/02/2026, 16:40 WIB
fin.co.id - Banyak orang berharap momen puasa menjadi ajang detox alami untuk menurunkan berat badan. Bayangan tubuh lebih ramping saat lebaran sudah menari-nari di kepala sejak awal bulan suci. Namun, kenyataannya justru seringkali pahit. Alih-alih angka timbangan bergeser ke kiri, baju lebaran justru terasa makin sempit.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Logikanya, saat kita tidak makan selama lebih dari 12 jam, cadangan lemak seharusnya terbakar sebagai energi. Namun, tubuh manusia memiliki mekanisme metabolisme yang sangat cerdas sekaligus menjebak jika kita tidak memahaminya dengan benar. Lonjakan berat badan saat puasa bukan sekadar mitos, melainkan hasil dari rentetan kesalahan fatal yang sering dianggap sepele.
Banyak faktor yang memicu kenaikan berat badan meski kamu menahan lapar seharian. Berikut adalah alasan logis mengapa angka timbangan kamu terus bergeser ke kanan:
Kesalahan fatal yang paling sering terjadi adalah perilaku makan berlebihan atau binge eating saat adzan maghrib berkumandang. Rasa lapar yang memuncak seringkali memicu mata lapar. Kamu merasa berhak mengonsumsi apa saja karena sudah menahan diri seharian. Padahal, memasukkan kalori dalam jumlah besar sekaligus akan membuat tubuh menyimpan cadangan energi tersebut sebagai lemak.
Menu berbuka khas Indonesia identik dengan yang manis-manis. Es buah, kolak, gorengan, hingga jajanan pasar mengandung indeks glikemik yang sangat tinggi. Lonjakan insulin yang mendadak setelah perut kosong seharian justru mempermudah proses penyimpanan lemak di perut. Jika kamu mengonsumsi gula berlebih setiap hari selama 30 hari, jangan kaget jika celana kamu mulai terasa sesak.
Banyak orang menjadikan puasa sebagai alasan untuk bermalas-malasan. Padahal, kurangnya gerak membuat metabolisme tubuh melambat. Saat asupan kalori meningkat (akibat makan besar di malam hari) namun pembakaran kalori minim, maka terjadi surplus kalori yang signifikan. Tubuh kamu memerlukan aktivitas fisik ringan agar sistem metabolisme tetap bekerja optimal meskipun sedang berpuasa.
Beberapa orang memilih melewatkan sahur karena malas bangun atau ingin memotong kalori. Padahal, melewatkan sahur justru memicu rasa lapar ekstrem di sore hari yang berujung pada kalap saat berbuka. Selain itu, menu sahur yang didominasi karbohidrat sederhana seperti nasi putih tanpa serat akan membuat gula darah cepat naik dan cepat turun, sehingga kamu akan merasa lemas dan lapar lebih cepat.
Mengelola berat badan saat puasa memang memerlukan disiplin tinggi, namun hasilnya akan sangat sebanding bagi kesehatan jangka panjang kamu. Jangan jadikan Ramadan sebagai alasan untuk memanjakan lidah secara berlebihan. Ingatlah bahwa esensi puasa adalah menahan diri, termasuk menahan diri dari godaan makanan yang merusak kesehatan tubuh kamu.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id