Tarim Tanah

fin.co.id - 12/02/2026, 05:24 WIB

Tarim Tanah

Maka retakan-retakan itu pada awalnya adalah tanah gunung yang tergerus oleh air hujan, lalu membentuk sungai yang dalam. Di kanan-kiri sungai yang tak berair itulah orang-orang Hadramaut membangun kehidupan.

Meski sungainya tidak berair tapi karena letaknya jauh di bawah tebing gunung sehingga tanahnya mengandung banyak air. Air melimpah. Di mana ada air di situ ada kehidupan.

Maka kehidupan terbanyak di Hadramaut adalah di celah-celah gunung tanah itu. Disebut ”wadi”.

Di Saudi Arabia ”wadi” biasanya di cekungan gunung. Di Hadramaut ”wadi” berada di sepanjang celah gunung.

Wadi itu bisa memanjang panjang sekali. Mengikuti aliran sungai di kala ada hujan.

Kelak, di hari keempat di Hadramaut saya berkesempatan memasuki celah-celah gunung yang dalam seperti itu. Tidak hanya memasuki tapi juga menyusurinya. Berpuluh kilometer. Melewati kampung-kampung di sepanjang sungai di celah gunung yang dalam.

Dalam menyelusuran itu saya sering mendongak ke atas, ke daratan yang di atas sana. Lalu menyadari bahwa saat itu saya sedang di dalam celah rekahan gunung tanah.

Tiba di Tarim sebenarnya saya sudah lapar. Tapi itu hari Jumat. Sebentar lagi saatnya tiba: harus salat Jumat. Lalu akan ada makan gratis di rumah ulama terbesar di Tarim: di rumah Habib Umar.

Letak rumah Habib Umar hanya beberapa langkah dari pondok Darul Mustofa. Beliau yang mendirikan Darul Mustofa.

Berarti itulah ziarah pertama saya di Tarim: ke rumah Habib Umar. Tidak perlu ada anggaran makan siang hari itu.

Berarti ke tempat pembuatan bata tanah tadi adalah ziarah kedua saya di Tarim.(Dahlan Iskan)

Afdal Namakule
Afdal Namakule
Penulis

Jurnalis profesional sejak 2016 dengan spesialisasi isu Politik, News, dan Lifestyle. Menjabat sebagai Redaktur di FIN.CO.ID sejak 2018, ia juga aktif mengulas perkembangan teknologi terkini. Berdedikasi menyajikan informasi akurat dan kredibel bagi pembaca