fin.co.id - Indonesia kehilangan sosok teladan. Meriyati Roeslani Hoegeng yang dikenal luas sebagai Eyang Meri meninggal dunia di usia 100 tahun. Eyang Meri dimakamkan hari ini, Rabu 4 Februari 2026 di di Taman Pemakaman Bukan Umum (TPBU) Giri Tama, Kecamatan Tajurhalang, Kabupaten Bogor.
Istri dari Kapolri ke-5 Republik Indonesia, Jenderal Polisi (Purn) Hoegeng Iman Santoso, itu dimakamkan berdampingan dengan sang suami yang wafat pada 2004 silam.
Jenazah diberangkatkan dari rumah duka menuju Bogor dengan pengawalan keluarga dan jajaran Kepolisian Republik Indonesia. Sejumlah pejabat utama Polri serta tokoh masyarakat hadir memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang selama hidupnya dikenal menjaga kesederhanaan dan integritas keluarga.
Divisi Humas Polri memastikan pendampingan penuh selama rangkaian prosesi berlangsung. Kehadiran institusi kepolisian menjadi bentuk penghormatan atas peran Eyang Meri sebagai figur yang lekat dengan nilai-nilai kejujuran yang diwariskan almarhum Jenderal Hoegeng kepada generasi Polri.
Eyang Meri wafat pada Selasa 3 Februari 2026 pukul 13.24 WIB di RS Bhayangkara Polri. Ia menghembuskan napas terakhir di usia 100 tahun setelah menjalani perawatan intensif akibat penurunan kondisi kesehatan yang dipengaruhi faktor usia.
Semasa hidup, Eyang Meri dikenal sebagai pendamping setia Jenderal Hoegeng dalam berbagai fase kehidupan, baik saat sang suami memimpin kepolisian maupun setelah purnatugas. Ia menjadi saksi sekaligus penjaga nilai kejujuran, kesederhanaan, dan keteguhan prinsip yang membuat nama Hoegeng dikenang sebagai simbol integritas Polri.
Pemilihan Taman Makam Giri Tama sebagai lokasi pemakaman memiliki makna khusus bagi keluarga. Selain menjadi tempat peristirahatan terakhir Jenderal Hoegeng, lokasi tersebut mencerminkan wasiat keluarga yang mengedepankan kesahajaan hingga akhir hayat, meski keduanya merupakan figur besar dalam sejarah kepolisian nasional.
Sejumlah anggota keluarga tampak menyambut para pelayat dengan suasana tenang dan bersahaja. Tidak ada prosesi berlebihan. Doa-doa dipanjatkan sebagai penghormatan terakhir bagi sosok ibu yang selama puluhan tahun menjadi panutan dalam menjaga martabat keluarga Polri.
Kepergian Eyang Meri menutup satu bab penting dalam perjalanan sejarah kepolisian Indonesia. Nilai-nilai yang ia jaga bersama Jenderal Hoegeng tetap hidup dan terus dikenang, tidak hanya oleh keluarga, tetapi juga oleh institusi dan masyarakat luas yang menghormati keteladanan mereka.