Mengapa Man City Sering Runtuh di Babak Kedua: Penyakit Lama Kambuh Lagi

fin.co.id - 02/02/2026, 12:00 WIB

Mengapa Man City Sering Runtuh di Babak Kedua: Penyakit Lama Kambuh Lagi

Pep Guardiola, Image: @pepteam / Instagram

fin.co.id - Masalah Manchester City di babak kedua kini bukan lagi kebetulan. Polanya terlalu sering muncul untuk diabaikan. Dalam beberapa pertandingan Liga Inggris terakhir, City berkali-kali unggul saat jeda, namun gagal mengamankan kemenangan. Hasil imbang 2-2 melawan Tottenham, setelah sempat memimpin 2-0, menjadi contoh paling mencolok dari persoalan yang terus berulang ini.

Danny Murphy, dalam kolomnya di BBC Sport, menyebut situasi tersebut dengan dua kata yang tajam: “complacent and lost control”. Dalam terjemahan bebas, City terlena dan kehilangan kendali. Bukan karena lawan tiba-tiba menjadi jauh lebih baik, melainkan karena City sendiri menurunkan standar permainan mereka setelah unggul.

Babak Pertama yang Terlalu Nyaman

Di babak pertama, Manchester City tampil seperti tim yang sedang menjalankan misi. Mereka dominan, rapi, dan penuh kontrol. Aliran bola berjalan lancar, tekanan tinggi efektif, dan Tottenham kesulitan keluar dari tekanan. Dalam fase ini, City terlihat seperti tim yang siap menekan Arsenal dalam perburuan gelar.

Guardiola juga melakukan beberapa penyesuaian taktik yang berjalan baik. Struktur lini tengah cair, pergerakan pemain fleksibel, dan pressing terkoordinasi menghasilkan keunggulan yang seharusnya cukup untuk menutup pertandingan. Bahkan, menurut Murphy, City seharusnya bisa unggul lebih dari dua gol sebelum jeda.

Namun justru di situlah masalahnya bermula. Dominasi yang terlalu nyaman menciptakan rasa aman berlebihan. City tampak bermain seolah pertandingan sudah selesai, padahal di level tertinggi Liga Inggris, tidak ada keunggulan yang benar-benar aman.

Perubahan Sikap Setelah Jeda

Babak kedua memperlihatkan kontras yang tajam. Tottenham kembali ke lapangan dengan energi baru, intensitas lebih tinggi, dan keinginan yang lebih besar untuk merebut pertandingan. Sebaliknya, City terlihat melambat. Duel-duel penting mulai kalah, bola kedua jarang dimenangkan, dan tekanan terhadap lawan menurun drastis.

Murphy menegaskan bahwa perubahan ini bukan soal kualitas pemain. Ia menulis bahwa Tottenham tidak tiba-tiba menjadi lebih hebat dari City. Perbedaannya terletak pada sikap. Spurs menginginkan pertandingan itu lebih besar daripada City di babak kedua.

Dalam sepak bola, terutama di laga besar, perbedaan kecil dalam intensitas sering kali menjadi penentu. City gagal menyamai energi lawan, dan akibatnya mereka kehilangan kontrol atas permainan yang sebelumnya sepenuhnya mereka kuasai.

Masalah Mental, Bukan Fisik

Salah satu poin penting dalam analisis Murphy adalah bahwa penurunan City tidak bisa dijelaskan dengan kelelahan fisik. Guardiola memiliki skuad yang dalam dan terbiasa melakukan rotasi. Jadwal padat bukan alasan yang cukup kuat.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah aspek mental. City terlihat seperti tim yang mengendur begitu unggul, seolah tugas sudah selesai. Murphy menggambarkan situasi ini sebagai kondisi ketika sebuah pertandingan terasa “terlalu mudah” di babak pertama, sehingga pemain tidak siap menghadapi perubahan intensitas setelah jeda.

Ini bukan masalah baru bagi City, tetapi musim ini dampaknya terasa lebih nyata. Ketika lawan mengubah pendekatan, City kerap terlambat merespons. Alur permainan yang sebelumnya mengalir tiba-tiba terhenti, dan kepercayaan diri berubah menjadi kegugupan.

Kehilangan Kendali dan Identitas

Makruf
Makruf
Penulis

Penulis FIN.CO.ID