Alasan Mengapa Vinicius Bikin Fans Real Madrid Terpecah

fin.co.id - 02/02/2026, 14:30 WIB

Alasan Mengapa Vinicius Bikin Fans Real Madrid Terpecah

Vinicious Junior Bikin Drama, Image: @vinijr / Instagram

fin.co.id - Vinicius Junior kembali menjadi sorotan setelah mencetak gol pembuka pada kemenangan 2–1 Real Madrid atas Rayo Vallecano. Selebrasinya yang intens, mencium lambang klub dan mengajak suporter bersorak, menegaskan loyalitasnya, tetapi juga memicu perdebatan di kalangan pendukung. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: mengapa seorang pemain yang membawa kemenangan tetap bisa memecah opini fans?

Performa dan Ekspektasi yang Tinggi

Real Madrid saat ini tengah mengalami tekanan kompetitif. Klub tersingkir dari Copa del Rey oleh tim divisi dua, harus melalui play-off Liga Champions, dan berada di bawah Barcelona dalam klasemen La Liga. Dalam situasi ini, para suporter mencari figur untuk dijadikan kambing hitam. Vinicius menjadi target karena performanya dinilai belum konsisten.

Gol ke gawang Rayo Vallecano merupakan gol pertamanya di La Liga sejak 4 Oktober. Secara keseluruhan, Vinicius menyumbang delapan gol di semua kompetisi musim ini, menjadikannya pencetak gol terbanyak kedua klub, namun masih jauh di bawah angka Kylian Mbappe yang mencapai 37 gol. Perbedaan ini memperkuat persepsi bahwa ekspektasi terhadap Vinicius tidak terpenuhi.

Perilaku di Lapangan dan Interaksi dengan Fans

Pundit BBC Sport, Guillem Balague, menyatakan bahwa fans Real cenderung mengkritik pemain yang mereka harapkan untuk “mewakili esensi klub” dan merasa Vinicius terasa asing bagi sebagian suporter. Reaksi di lapangan, ketidaksepakatan publik dengan mantan pelatih, hingga perilaku di bangku cadangan saat kalah dari Albacete, dianggap menciptakan konflik yang tidak perlu.

Penggantian foto profil Instagram dari lambang Real menjadi Brazil, serta komentar terkait diskriminasi rasial, beberapa pihak memandangnya sebagai tindakan provokatif. Hal ini membuat sebagian pendukung menilai Vinicius arogan, meski motivasinya adalah melawan ketidakadilan.

Rasialisme dan Tekanan Sosial

Vinicius juga menjadi korban rasisme dalam kariernya di Spanyol. Pada 2022, lima orang dijatuhi hukuman penjara percobaan karena menghinanya secara rasial. Pada 2024, Vinicius menyatakan, “Saya bukan korban rasisme – saya adalah penyiksa bagi para rasis,” menegaskan sikapnya melawan diskriminasi.

Balague menjelaskan, tekanan yang dialami Vinicius terkait perlakuan fans tidak lepas dari unsur rasial yang masih ada dalam sepakbola Spanyol. Fans kadang ingin pemain hanya fokus bermain tanpa menyinggung ketidakadilan sosial, sementara Vinicius menolak untuk mengabaikan pengalaman diskriminatif yang dialaminya sejak kecil.

Ketidakpastian Kontrak dan Loyalitas

Belum diperpanjangnya kontrak Vinicius juga memperburuk persepsi sebagian fans. Ketidakpastian ini dianggap sebagai tanda kurangnya komitmen terhadap klub, meskipun alasan penundaan perpanjangan kontrak terkait ketidaknyamanan bekerja di bawah pelatih sebelumnya. Selebrasi dengan mencium lambang klub dan pesan di media sosial menjadi upaya Vinicius menunjukkan loyalitasnya.

Manajer baru Alvaro Arbeloa menegaskan keinginan klub agar Vinicius bertahan, meski keputusan akhir tetap berada di tangan pemain. Balague menekankan bahwa fans yang terus mengkritiknya bisa memengaruhi Vinicius untuk mempertimbangkan posisinya, meski perpanjangan kontrak tetap kemungkinan besar terjadi.

Kesimpulan

Vinicius Junior memecah opini fans Real Madrid karena kombinasi faktor performa, perilaku di lapangan, tekanan rasial, dan persepsi loyalitas. Fenomena ini menunjukkan bagaimana seorang pemain tidak hanya dinilai dari kontribusi gol, tetapi juga dari simbolisme, interaksi sosial, dan konteks budaya klub. Dari perspektif modern, hal ini menegaskan bahwa olahraga tidak lepas dari dinamika sosial dan persepsi publik, di mana ekspektasi fans sering kali bercampur dengan isu non-teknis seperti identitas dan keadilan.

Makruf
Makruf
Penulis

Penulis FIN.CO.ID