Internasional . 29/01/2026, 10:05 WIB
fin.co.id - Dunia kini menatap nanar pada palagan Ukraina yang tak kunjung usai. Studi terbaru dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) Washington mengungkap fakta mengerikan, jumlah tentara Rusia dan Ukraina yang tewas, terluka, atau hilang diprediksi akan menembus angka fantastis 2 juta orang pada musim semi 2026 ini.
Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan potret kehancuran massal yang melampaui sejarah peperangan modern mana pun. Laporan yang dirilis Rabu (28/1) tersebut memerinci Rusia kemungkinan besar menanggung beban korban hingga 1,2 juta jiwa, termasuk 325.000 kematian di medan tempur. Sementara itu, kubu Ukraina juga berdarah-darah dengan kehilangan hampir 600.000 tentaranya.
Lebih Berdarah dari Perang Afghanistan & Chechnya
Perbandingan sejarah menunjukkan betapa brutalnya invasi Moskow kali ini. Kematian tentara Rusia di Ukraina tercatat 17 kali lipat lebih besar dibandingkan kekalahan Uni Soviet di Afghanistan pada era 1980-an. Bahkan, angka kematian ini 11 kali lebih tinggi dari gabungan Perang Chechnya pertama dan kedua.
Secara kumulatif, jumlah prajurit yang tumbang dalam perang ini lima kali lebih besar dari total korban seluruh perang Rusia dan Soviet digabungkan sejak Perang Dunia II berakhir. Meskipun jumlah korban Rusia melampaui Ukraina dengan rasio 2:1, Kyiv tetap berada dalam posisi sulit mengingat kapasitas populasi mereka yang jauh lebih kecil untuk melakukan mobilisasi pasukan baru.
Taktik Gaji Gila-Gilaan & Rekrutan Asing
Demi menambal lubang besar di barisan tempur, Kremlin kini beralih ke strategi "perang uang". Moskow menawarkan bonus pendaftaran setara puluhan ribu dolar AS serta paket tunjangan mewah bagi rekrutan baru. Tak hanya warga lokal, ribuan pria dari Asia, Amerika Selatan, hingga Afrika dilaporkan turut ditarik ke garis depan di bawah tekanan atau janji manis yang seringkali menyesatkan.
Di sisi lain, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky masih menghadapi dilema politik besar. Ia hingga kini tetap menolak menurunkan usia mobilisasi di bawah 25 tahun demi menjaga popularitas, meskipun unit-unit militer di lapangan sudah terkuras habis dan butuh regenerasi segera.
Kemajuan Siput di Tengah Musim Dingin
Ironisnya, meski jutaan nyawa menjadi taruhan, perolehan wilayah yang didapatkan Rusia justru tergolong sangat kecil. CSIS mencatat sejak 2024, pasukan Moskow rata-rata hanya maju 15 hingga 70 meter per hari. Kecepatan ini disebut lebih lambat daripada hampir semua operasi ofensif besar dalam sejarah perang dunia.
Data dari kelompok pemantau DeepState memperkuat fakta tersebut. Sepanjang 1 hingga 25 Januari 2026, Rusia hanya mampu merebut 152 km persegi wilayah, laju paling lambat sejak Maret tahun lalu akibat hantaman musim dingin ekstrem.
Hingga saat ini, baik Moskow maupun Kyiv tetap menutup rapat angka resmi korban mereka dan memperlakukannya sebagai rahasia negara. Pertemuan damai di Abu Dhabi akhir pekan lalu pun belum membuahkan hasil, seiring kerasnya tuntutan maksimal dari pihak Kremlin.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id