fin.co.id - Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL), Laksamana TNI Muhammad Ali, memberikan jaminan penuh bagi masa depan keluarga prajurit Marinir yang gugur dalam bencana tanah longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Pihak TNI AL memastikan anak-anak para patriot tersebut akan menerima beasiswa pendidikan hingga jenjang sarjana serta kemudahan jika ingin meniti karier sebagai prajurit TNI.
Tragedi memilukan di Cisarua ini menimbun sedikitnya 23 anggota Korps Marinir saat sedang menjalankan tugas. Hingga Kamis 29 Januari 2026, tim SAR gabungan baru berhasil mengevakuasi lima jenazah prajurit dari balik material longsor, sementara 18 personel lainnya masih dalam status pencarian intensif.
Jaminan Kesejahteraan dan Pendampingan
Laksamana Muhammad Ali menegaskan bahwa pemberian beasiswa dan santunan merupakan hak mutlak bagi keluarga yang ditinggalkan. Selain bantuan finansial dan pendidikan, TNI AL juga menerjunkan tim khusus untuk memberikan pendampingan psikologis guna memulihkan trauma keluarga korban.
"Kami memberikan kesempatan dan kemudahan bagi putra-putri korban untuk bergabung menjadi prajurit TNI, khususnya TNI AL. Ini adalah bentuk penghormatan bagi para prajurit yang telah gugur dalam tugas," ujar Ali melalui keterangan resminya.
Update Evakuasi: 5 Gugur, 18 Masih Dicari
Sejauh ini, lima prajurit yang telah ditemukan adalah Serda Marinir Sidiq Hariyanto, Praka Marinir Muhammad Koriq, Praka Marinir Andre Nicky Olga Suwita, Praka Marinir Ari Kurniawan, dan Pratu Marinir Febry Bramantio. Kelima jenazah tersebut telah diberangkatkan ke kampung halaman masing-masing untuk dimakamkan secara militer.
Di lokasi bencana, TNI AL telah mengerahkan sedikitnya 200 personel Marinir untuk menyisir sisa material longsor. Medan yang berat di Cisarua membuat operasi pencarian ini mengandalkan kolaborasi teknologi dan tenaga manusia secara maksimal.
Baca Juga
Operasi SAR Gunakan Sensor Thermal dan Drone
Mengingat masih ada 18 prajurit yang belum ditemukan, tim SAR gabungan memperkuat pencarian dengan bantuan teknologi mutakhir. Penggunaan drone dan sensor thermal menjadi ujung tombak untuk mendeteksi keberadaan korban di bawah timbunan tanah yang dalam. Selain itu, unit anjing pelacak (K9) dan alat berat juga terus bekerja nonstop di area terdampak.
Laksamana Ali berharap penggunaan teknologi ini dapat mempercepat proses evakuasi. Seluruh jajaran TNI AL kini fokus memberikan dukungan penuh di lapangan agar 18 personel lainnya segera ditemukan dalam waktu dekat.