Bukan Pemicu Cuaca Buruk, BMKG Bongkar Rahasia Sains di Balik Operasi Modifikasi Cuaca

fin.co.id - 29/01/2026, 08:49 WIB

Bukan Pemicu Cuaca Buruk, BMKG Bongkar Rahasia Sains di Balik Operasi Modifikasi Cuaca

fin.co.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan klarifikasi tegas untuk mematahkan narasi negatif yang menyebut Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai pemicu ketidakstabilan cuaca di Indonesia. Melalui rilis resminya, BMKG menekankan bahwa OMC merupakan langkah mitigasi bencana yang terukur dan berbasis sains, bukan "bom waktu" yang membahayakan masyarakat.

Melawan Mitos Cold Pool dan Awan Buatan

BMKG meluruskan kekeliruan sains terkait fenomena cold pool atau kolam dingin yang sering dikaitkan secara negatif dengan modifikasi cuaca. Faktanya, cold pool adalah fenomena meteorologi alami yang selalu terbentuk saat hujan terjadi, di mana air hujan yang menguap mendinginkan udara dan membentuk massa udara padat yang turun ke permukaan.

Teknologi penyemaian awan dalam OMC tidak menciptakan awan baru dari ketiadaan. Sistem ini bekerja pada awan yang sudah tersedia secara alami dengan mempercepat proses turunnya hujan sebelum mencapai wilayah padat penduduk. Dari sisi energi, teknologi manusia saat ini pun belum mampu menciptakan massa udara dingin dalam skala besar secara artifisial.

Dua Metode Utama Pengendalian Hujan

Dalam operasinya, BMKG menggunakan dua teknik utama untuk memanipulasi intensitas hujan. Pertama adalah Jumping Process Method, yaitu menyemai awan di atas laut agar hujan turun di perairan sebelum mencapai daratan. Kedua, Competition Method yang dilakukan pada awan di daratan guna mengurangi intensitasnya agar tidak berkembang menjadi badai besar yang merusak.

Langkah proaktif ini juga sedang berjalan di Jawa Barat, khususnya untuk melindungi daerah terdampak tanah longsor seperti Desa Pasir Langu, Cisarua. Pengendalian intensitas hujan di wilayah tersebut bertujuan membantu tim SAR melakukan evakuasi dan mobilisasi bantuan secara lebih aman.

Akar Masalah: Hilangnya 800 Situ di Jabodetabek

BMKG mengingatkan bahwa banjir lebih banyak ditentukan oleh buruknya kemampuan lingkungan dalam menyerap air daripada sekadar faktor cuaca. Data sejarah mencatat hilangnya sekitar 800 situ di wilayah Jabodetabek sejak era 1930-an, yang memicu penyusutan drastis daerah resapan air.

Oleh karena itu, penataan lingkungan tetap menjadi kunci utama yang harus berjalan beriringan dengan teknologi modifikasi cuaca. Pemerintah menegaskan tidak ada kepentingan untuk menciptakan cuaca buruk; OMC hanyalah alat bantu untuk mengelola risiko di tengah terbatasnya daya tampung lingkungan dan ancaman perubahan iklim yang kian nyata.

Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan memantau informasi valid melalui aplikasi InfoBMKG agar tidak terjebak dalam disinformasi yang meresahkan.

Lina
Lina
Penulis

Penulis FIN.CO.ID