“Ditonjok dan disabet bahu kanannya pakai selang sama sepatu ditendang,” ucap Suderajat kepada wartawan di lokasi, Selasa 27 Januari 2026.
“(Disabetnya) sama tentara. Ditendang juga, bangun lagi, bangun lagi, (ditendang) sama tentara,” sambungnya.
Peristiwa ini bermula ia berangkat sejak pukul 04.00 WIB untuk mengambil es gabus di pabrik rumahan daerah Depok Lama, lalu menuju Kemayoran, Jakarta Pusat.
Saat berkeliling jualan, Suderajat dihampiri sekelompok orang yang alibinya hendak membeli es gabus.
“Pertama (mereka) datang beli es kue, terus es nya dibejek-bejek. Kata bapaknya itu es racun,” ungkap Suderajat.
Es gabus yang dijualnya disebut mengandung spons, beracun, bahkan dituduh basi.
Teksturnya juga disebut menyerupai kapas bedah. Setelahnya, es yang hancur itu dilempar ke wajah Suderajat hingga meninggalkan luka goresan di pipi.
“Es nya dibejek sampai hancur. Ini dekat mata saya jadi sakit sama bahu nyeri,” tuturnya.
Saat itu, Suderajat sempat diamankan oleh polisi dan TNI karena es gabus miliknya disebut mengandung spons.
Setelah diamankan, ia diarahkan beberapa hal termasuk menerima pukulan dari aparat.
Baca Juga
“Katanya jangan pegangan, (disuruh berdiri satu kaki), sampai dua kaki ganti-gantian. (Disuruh) bangun lagi, bangun lagi,” tutur Suderajat.
Meski sempat berupaya menjelaskan ke aparat bahwa es gabus yang dijualnya berbahan asli, Suderajat seolah diabaikan.
“Saya bilang ini es kue yang asli, jadi ini dituduh. Saya bilang bukan tapi mereka bilang es spons,” terangnya.
Disebutkan, Suderajat kembali ke rumah pada Minggu 25 Januari sekitar pukul 05.00 WIB bersama barang dagangannya sudah hancur dan tak bisa untuk dijual kembali.
Ia mengaku masih trauma dan memilih tidak berjualan sementara waktu.