Lebih dari Sekadar Rasa, Menyesap Doa dan Harapan di Balik Hidangan Ikonik Imlek

fin.co.id - 28/01/2026, 12:01 WIB

Lebih dari Sekadar Rasa, Menyesap Doa dan Harapan di Balik Hidangan Ikonik Imlek

Hidangan Imlek mulai dari Jiaozi yang menyerupai emas hingga ikan yang harus tersisa, serta filosofi mendalam di balik lezatnya sajian keberuntungan. Foto: Pixabay@@TetyanaUs

fin.co.id - Bagi masyarakat Tionghoa, perayaan Tahun Baru Imlek atau Festival Musim Semi adalah momen sakral untuk memulai lembaran baru. Di atas meja makan yang penuh uap panas dan aroma menggoda, tersaji deretan hidangan yang bukan dipilih karena kelezatannya semata. Setiap suapan adalah simbolisme, sebuah "doa yang dimakan" untuk mengundang kemakmuran, kesehatan, dan persatuan keluarga di tahun yang baru.

Tradisi kuliner ini berakar pada kepercayaan bahwa visual dan pelafalan nama makanan dapat menarik energi positif. Inilah alasan mengapa setiap menu di atas meja makan Imlek memiliki cerita dan filosofi yang mendalam.

Jiaozi: Melipat Kekayaan ke Dalam Adonan

Di wilayah Utara, Jiaozi atau pangsit menjadi primadona yang tak tergantikan. Bentuknya yang melengkung bukan tanpa alasan; ia sengaja dibuat menyerupai yuanbao, yakni batang emas atau perak kuno yang digunakan pada masa kekaisaran.

Membuat pangsit secara komunal di malam Imlek menjadi ritual penguat ikatan antar-generasi. Tak jarang, keluarga menyembunyikan koin bersih di dalam salah satu pangsit. Siapa pun yang beruntung menemukannya, diyakini akan mendapat limpahan rejeki ekstra sepanjang tahun.

Ikan Utuh: Seni Menyisakan Keberuntungan

Ikan dalam bahasa Mandarin disebut yu, yang pelafalannya persis dengan kata "surplus" atau "kelebihan". Menyajikannya secara utuh, lengkap dari kepala hingga ekor, melambangkan awal dan akhir tahun yang kuat serta tuntas.

Namun, ada etika unik dalam menikmatinya. Ikan biasanya dikukus dengan jahe dan kecap asin, lalu diletakkan di tengah meja menghadap tamu kehormatan. Rahasianya, ikan ini tidak boleh dihabiskan seluruhnya. Bagian yang tersisa menjadi simbol harapan agar surplus atau keberuntungan terus mengalir dari tahun ini ke tahun berikutnya.

Nian Gao dan Mie Panjang Umur: Simbol Pertumbuhan

Bagi masyarakat di Selatan, Nian Gao atau kue keranjang adalah wajib. Secara harafiah, Nian Gao berarti "tahun yang lebih tinggi". Teksturnya yang lengket melambangkan keeratan keluarga, sementara rasanya yang manis mencerminkan harapan akan hidup yang lebih indah dan posisi (karier atau usaha) yang meningkat tajam.

Lain lagi dengan Changshou Mian atau mie panjang umur.

Mie ini disajikan ekstra panjang tanpa putus. Memotong mie saat memasak atau memakannya dianggap tabu, karena helai mie yang utuh merepresentasikan umur panjang dan kesehatan yang tak terputus bagi mereka yang menyantapnya.

Akulturasi dan Variasi Regional

Menariknya, kuliner Imlek terus berevolusi mengikuti geografis. Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Singapura, dikenal tradisi Lo Hei atau Yusheng. Ini adalah salad ikan mentah yang diaduk dan diangkat tinggi-tinggi ke udara sambil meneriakkan harapan. Semakin tinggi lemparannya, semakin besar keberuntungan yang datang.

Di Indonesia sendiri, akulturasi budaya membawa Ikan Bandeng sebagai primadona lokal, terutama di wilayah Betawi. Bandeng yang penuh duri melambangkan ketelitian dan kesabaran, sementara ukurannya yang besar menjadi simbol kemakmuran bagi pemilik rumah.

Lina
Lina
Penulis

Penulis FIN.CO.ID