fin.co.id - Wilayah metropolitan Indonesia menghadapi krisis sampah yang mengkhawatirkan. Lahan penimbunan konvensional semakin langka, sementara biaya pengelolaannya terus membengkak.
Intisari :
- Keterbatasan lahan penimbunan sampah konvensional mendorong Indonesia untuk mengadopsi teknologi waste to energy.
- Edukasi perubahan perilaku saja tidak cukup; inovasi teknologi pengolahan sampah menjadi energi sangat mendesak.
- Keberhasilan Surabaya mengolah sampah menjadi listrik menjadi bukti nyata potensi teknologi waste to energy di Indonesia.
Teknologi Waste to Energy Jadi Solusi Krusial
Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan Indonesia (IATPI) dengan tegas menyatakan bahwa teknologi 'waste to energy' bukan lagi sekadar opsi, melainkan sebuah keharusan mutlak yang harus segera diadopsi.
Anggota Dewan Pakar IATPI, Nofrizal Tahar, menyoroti urgensi ini dengan mengingatkan bahwa permasalahan sampah tidak bisa terus ditunda.
Beliau menekankan, "Masalah sampah tidak bisa menunggu," usai Rapat Pengurus IATPI di Jakarta pada Kamis, 15 Januari 2026 kemarin.
Nofrizal menjelaskan bahwa peralihan dari metode penimbunan ke pengolahan sampah menjadi energi merupakan langkah kunci untuk memastikan keberlanjutan lingkungan di masa depan.
Keterbatasan lahan di kota-kota besar menjadi faktor pendorong utama perlunya inovasi pengolahan sampah.
Meskipun perubahan perilaku masyarakat dari hulu tetap penting, Nofrizal menambahkan, penggabungan strategi tersebut dengan teknologi canggih pengolahan sampah menjadi energi adalah solusi paling efektif.
Pendekatan komprehensif ini akan mengatasi masalah sampah secara lebih tuntas dan berkelanjutan.
Baca Juga
Surabaya Jadi Bukti Nyata Potensi 'Waste to Energy'
Indonesia tidak perlu lagi meragukan potensi besar dari teknologi pengolahan sampah menjadi energi, sebab Surabaya telah membuktikannya.