fin.co.id - Promotor konser menuntut pemerintah segera merealisasikan sistem perizinan satu pintu Kementerian Kebudayaan. Mereka percaya terobosan ini krusial untuk memangkas biaya produksi konser internasional yang selama ini membengkak akibat birokrasi berlapis.
Intisari :
- Perizinan satu pintu menjadi kunci menekan biaya produksi konser internasional di Indonesia.
- Biaya produksi yang efisien berpotensi membuat harga tiket lebih kompetitif dan terjangkau.
- Potensi pasar musik Indonesia sangat besar, namun terkendala ekosistem regulasi yang belum optimal.
Birokrasi Rumit, Biaya Konser Internasional Melonjak
Industri hiburan tanah air tengah bergejolak menanti janji manis pemerintah terkait sistem perizinan satu pintu yang dijanjikan.
Kenyataannya, para promotor masih dibuat pusing tujuh keliling oleh kompleksitas birokrasi yang mempersulit penyelenggaraan konser, khususnya dari skala internasional.
David Ananda, Managing Director Color Asia, blak-blakan mengungkapkan bahwa mendatangkan bintang dunia bukanlah perkara mudah, bukan hanya soal negosiasi kontrak yang alot.
Tantangan sesungguhnya terletak pada "biaya atribut pelengkap" seperti sewa venue dan yang paling krusial, perizinan.
"Dunia perkonseran kita sebenarnya sudah maju pesat dibanding era 80-an atau 90-an," ujar David kepada media di Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (13/1/2026).
Namun, ia melanjutkan, jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura, Indonesia masih tertinggal jauh dalam hal kepraktisan birokrasi.
Baca Juga
Di Singapura, proses perizinan sudah terintegrasi penuh secara daring (online).
Hal ini memberikan kepastian biaya dan waktu yang sangat berharga bagi para penyelenggara.