“Kami sempat mengira ancaman keamanan telah mereda, tetapi ternyata belum benar-benar menurun,” ujar Anutin di hadapan media.
Anutin menambahkan bahwa pemerintah Thailand akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap keamanan perbatasan dan memperkuat patroli di area-area rawan
Kamboja Tegaskan Komitmen Perdamaian
Hingga berita ini diturunkan, pemerintah Kamboja belum memberikan tanggapan langsung atas keputusan Thailand menangguhkan kesepakatan damai.
Namun, dalam pernyataan terpisah pada Senin sore, Kementerian Pertahanan Kamboja menegaskan “komitmen yang tak tergoyahkan terhadap perdamaian” dan menyerukan agar semua pihak menahan diri.
Pemerintah Kamboja juga membantah tuduhan bahwa pasukannya telah menanam ranjau baru di sepanjang wilayah perbatasan, menyebut klaim tersebut sebagai “tidak berdasar dan berpotensi memprovokasi konflik baru.
Konflik Perbatasan yang Panjang
Perselisihan mengenai garis perbatasan antara Thailand dan Kamboja bukan hal baru.
Sengketa ini telah berlangsung lebih dari satu abad, dengan akar konflik yang merujuk pada peta kolonial Prancis di awal 1900-an.
Ketegangan terakhir meningkat pada Juli 2025, ketika Thailand menuduh Kamboja menanam ranjau darat baru yang menyebabkan luka pada sejumlah tentaranya.
Tuduhan tersebut dibantah keras oleh Kamboja, tetapi bentrokan bersenjata tetap pecah di beberapa titik perbatasan.
Baca Juga
Sebelumnya, hubungan kedua negara sempat menunjukkan tanda-tanda membaik setelah pertemuan bilateral di Kuala Lumpur bulan lalu.
Namun, penangguhan kesepakatan damai ini dikhawatirkan akan memperburuk hubungan diplomatik antara dua negara ASEAN itu.
Dampak terhadap Stabilitas Regional
Pengamat hubungan internasional dari Chulalongkorn University, Dr. Thitinan Pongsudhirak, menilai bahwa langkah Thailand menangguhkan perjanjian damai merupakan tindakan yang realistis secara politik, namun berisiko diplomatik tinggi.